Ilustrasi Bendera Papua Nugini. (Foto: Wikipedia)

KBR - Aksi demonstrasi mahasiswa di Port Moresby ibukota Papua Nugini diwarnai rusuh.

Polisi menembaki aksi demonstrasi, hingga menyebabkan sejumlah orang luka dan empat orang dikabarkan tewas. Namun jumlah tewas belum ada konfirmasi dari otoritas setempat.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan ratusan orang berhamburan di tengah tembakan gas air mata dan suara tembakan senjata. Beberapa orang diantaranya terlihat mengalami luka di perut, dada dan kaki.

Gelombang demonstrasi mahasiswa di Papua Nugini terjadi dalam beberapa pekan terakhir dengan tuntutan agar Perdana Menteri Peter O'Neill mundur karena dianggap tersandung korupsi. Perdana Menteri O'Neill saat ini sedang menghadapi ancaman mosi tidak percaya dari parlemen.

Warga di Port Moresby mengabarkan polisi menembakkan senjata ke arah kerumunan orang dan juga melemparkan gas air mata untuk membubarkan massa. Demonstrasi itu terletak di dekat kampus Universitas Papua Nugini di Waigani.

Sejumlah mahasiswa yang terluka segera dilarikan ke Rumah Sakit Umum Port Moresby yang lokasinya tidak jauh dari tempat bentrokan dan kerusuhan.

Papua Nugini merupakan negara yang dahulu dibawah pendudukan Australia. Negara ini terus mengalami masalah dengan kekerasan dan kemiskinan, meskipun kaya akan sumber daya alam. Berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi yang dilansir Transparansi International, Papua Nugini menempati posisi 139 dari 168 negara.

Pemerintah Australia telah mengeluarkan peringatan bepergian ke Papua Nugini. Australia menyebutkan ada sejumlah orang tewas dan luka akibat kerusuhan yang mewarnai unjuk rasa di Port Moresby.

Kedutaan Besar Amerika di Port Moresby juga memperingatkan warganya untuk menghindari aera perkotaan yang dekat lokasi kekerasan. Dalam pernyataannya, Kedubes AS di PNG menyebutkan, "situasi masih tegang, dan bisa meningkat kapan saja."

Beberapa orang bersaksi, kerusuhan terjadi di jalan-jalan, dimana banyak orang merusak dan merampok pertokoan.

Salah seorang pemimpin mahasiswa di PNG, Noel Anjo mengatakan kerusuhan terjadi ketika mahasiswa mulai menggelar aksi pawai dari kampus ke gedung parlemen di ibukota. Namun polisi menutup jalan-jalan.

Noel Anjo mengatakan polisi juga memukuli mahasiswa baik dengan tangan maupun dengan popor senjata sebelum kemudian menembaki mahasiswa itu dengan peluru.

"Para mahasiswa kabur ke segala penjuru, namun ada beberapa orang yang saya lihat luka parah," kata Anjo.

Belum ada keterangan dari Kepolisian Papua Nugini.

Seorang dokter di Rumah Sakit Umum Port Moresby mengatakan ada sekitar 20 orang luka dirawat di rumah sakit itu, lima orang diantaranya dalam kondisi kritis.

Dalam beberapa pekan terakhir, situasi politik dan keamanan di Papua Nugini mengalami gangguan dan ketidakpastian. Ribuan mahasiswa dari berbagai wilayah di negara itu melakukan aksi protes dan memboikot kegiatan perkuliahan karena situasi politik. Kampus Universitas PNG juga diliburkan sejak bulan lalu.

Perdana Menteri O'Neill menolak permintaan mundur sejak ia diduga terlibat skandal korupsi dua tahun lalu. Dalam kasus itu, pemerintah dituduh melakukan kesalahan manajemen dan dianggap melakukan kerjasama internasional yang mencurigakan.

Pemimpin oposisi PNG, Sam Basil mengatakan parlemen negara itu berhenti sementara sampai Agustus karena PM O'Neill mencoba menghindari mosi tidak percaya terhadap pemerintah.

"Kami menginginkan agar Perdana Menteri mundur dan bersedia mengikuti proses hukum. Tapi dia tidak mau," kata Basil kepada Reuters.

Lembaga LSM Human Right Watch meminta Perdana Menteri O'Neill segera menggelar penyelidikan menyeluruh dan transparan atas kasus penembakan terhadap mahasiswa, serta mengadili orang-orang yang bertanggung jawab. (Reuters/BBC/ABC) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!