Kampanye Brexit (Britain Exit) memenangkan referendum Inggris untuk keluar dari Uni Eropa. (Foto: Dave Kellam/Flickr/Creative Commons)

KBR - Meski survei yang dilakukan lembaga YouGov menempatkan pendukung Brexit kalah tipis, namun penghitungan suara memperlihatkan kubu Brexit memenangkan referendum yang digelar 23 Juni lalu.

Lebih dari 51 persen warga Inggris Raya termasuk di wilayah Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara menginginkan Inggris keluar dari Uni Eropa. 

Baca: Brexit, Penentuan Nasib Inggris atau Nasib Uni Eropa?  

Brexit atau Briton Exit adalah kampanye demi memenangkan referendum nasional untuk keluar dari keanggotaan Uni Eropa.

Referendum itu memilih antara Remain (bertahan di Uni Eropa) atau Leave (keluar dari Uni Eropa).

Perolehan Suara

Kemenangan demi kemenangan diraih kubu Brexit atau pendukung jawaban 'Leave'.

Hingga penghitungan mencapai 98,7 persen pada pukul 06.14 waktu setempat, kubu Brexit mencapai 51,8 persen. Sedangkan pendukung Remain hanya 48,2 persen. Kelompok Remain tidak mungkin mengejar perolehan suara dengan 1,3 persen suara tersisa.

Komposisi perolehan suara tidak ada perubahan berarti, sejak jumlah suara yang dihitung mencapai 70 persen.

Pendukung Brexit kebanyakan berada di di Inggris dan Wales, dimana dukungan mencapai 54 persen. Sementara di Wales dan Irlandia Utara, lebih dari 55 persen mendukung Inggris tetap berada di Uni Eropa.

Bahkan di Kota Newcastle, yang semula diprediksi pendukung Remain mencapai 66,8 persen, saat penghitungan suara faktual justru hanya 50,7 persen.

Kejutan juga muncul di Kota Sunderland. Semula diprediksi hanya 53 persen saja populasi yang mendukung Brexit. Ternyata, lebih dari 61 persen menginginkan keluar dari Uni Eropa.

Skotlandia Ingin Merdeka

Gara-gara itu, Irlandia Utara dan Skotlandia---yang merupakan pendukung kuat Remain, mulai menyuarakan keinginan pisah dari Kerajaan Inggris Raya.
Kemenangan kubu Brexit dalam referendum memicu perpecahan di Inggris Raya. Dari 32 dewan kota Skotlandia, 30 diantaranya menginginkan Inggris Raya tetap berada di Uni Eropa.

Kemenangan Brexit ini akan membuka jalan bagi Skotlandia untuk mengajukan referendum kemerdekaan kedua.

Pada 18 September 2014, Skotlandia menggelar referendum kemerdekaan. Hasilnya, hanya 45 persen yang ingin merdeka. Sedangkan 55 persen ingin tetap berada dalam Inggris Raya dan ikut Uni Eropa.

"Kami percaya, parlemen Skotlandia punya hak untuk meminta referendum lagi, jika ada perubahan situasi.....misalnya ketika Skotlandia dikeluarkan dari Uni Eropa melawan keinginan kita," begitu pernyataan Scottish National Party (SNP) pada 5 Mei 2016 lalu.

Hari Kemerdekaan Inggris?

Pemimpin gerakan kampanye Brexit, Nigel Farage sempat mengatakan, Brexit kalah. Namun belakangan ia mulai optimistis. Ia bahkan sudah menyampaikan pidato kemenangan.

"Jika perkiraan sekarang ini benar, maka ini akan menjadi kemenangan nyata bagi rakyat, kemenangan rakyat biasa. Kita harus melawan kelompok multinasional, melawan bank-bank besar, melawan politik raksasa, melawan kebohongan-kebohongan, korupsi, penyelewengan... dan demi negara ini, saya fikir kali ini kita akan menang. Kita akan memenangi pertarungan ini tanpa harus berkelahi, tanpa menembakkan sebutir pun peluru. Saya harap kemenangan ini bisa membawa kita kepada kedaulatan bangsa. Mari kita catat tanggal 23 Juni ini sebagai hari kemerdekaan kita," kata Nigel Farage.

Baca: Survei YouGov: Referendum Inggris, Brexit Kalah Tipis   

David Cameron Harus Mundur?

Sementara itu, seorang petinggi Partai Buruh, Hillary Benn menilai David Cameron harus mundur dari jabatan perdana menteri jika hasil referendum ternyata memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa.

Hillary Benn menentang Brexit dan menginginkan Inggris tetap berada di Uni Eropa.

Saat ini mulai banyak pihak di Inggris yang bersuara mengenai perlu tidaknya David Cameron untuk mundur. Bahkan mulai muncul diskusi nama-nama yang calon perdana menteri Inggris yang baru.

Beberapa nama yang muncul adalah Boris Johnson (Anggota parlemen), George Osborne (Anggota Parlemen dan konselor), Theresa May (Menteri Dalam Negeri), Michael Gove (Menteri Kehakiman)

David Cameron merupakan salah satu motor pendukung kampanye Remain, gerakan agar Inggris tetap bertahan di Uni Eropa. Ia telah berjanji menyelenggarakan referendum penentuan nasib di Uni Eropa. Dia dianggap gagal menjaga Inggris tetap berada di dalam Uni Eropa. (Telegraph/Reuters/BBC)
 
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!