Koran-koran di Inggris memberitakan hasil referendum negara itu, dimana hasilnya Inggris keluar dari Uni Eropa. (Foto: ANTARA/Reuters)

KBR, Jakarta - Sejumlah warga Indonesia yang tinggal di London Inggris waswas dan diliputi ketakutan terkait keamanan mereka.

Ini terkait dengan meningkatnya laporan dan pemberitaan kasus rasisme di London Inggris semenjak kubu pendukung Brexit memenangkan referendum (jajak pendapat nasional) pada Kamis lalu.

"Yang bikin rada panik adalah perbincangan di grup sesama teman pendatang, grup teman-teman dari Indonesia. Bahkan seorang teman dari Wales yang sudah lima tahun tinggal di sini tiba-tiba berkirim pesan, 'Neng jangan pulang malam-malam. Jaga diri'. Yang seperti ini yang bikin panik. Panik banget sih ndak, tapi ya cukup aware-lah. Kalau kemana-mana sendiri biasanya cuek dan merasa aman. Kalau sekarang, mulai tengok kanan kiri, sambil mikir aman nggak ya," kata Nita Roshita, seorang mahasiswa asal Indonesia, Senin (27/6/2016).

Nita sudah sembilan bulan tinggal di London, Inggris. Sejak keputusan referendum In/Out Inggris dari Uni Eropa muncul pada Jumat lalu, media massa maupun media sosial di Inggris memberitakan sejumlah kasus diskriminasi.

Bahkan, Nita melihat dua kali insiden yang menguatkan 'ketakutan' rasial di London.

"Pada saat hari Brexit diumumkan dan kubu Leave menang, jam 11 malam saya bersama teman-teman naik bus. Biasanya tidak ada isu macam-macam. Ketika lewat Greenwich Park (di London), ada belasan polisi menyetop dan memeriksa mobil. Kita yang ada di dek atas bus melihat kejadian itu, dan semua ngerti bahwa ini ada sesuatu hal yang nggak biasa terjadi. Penumpang lain mencoba menenangkan kami---karena kami kelihatan panik. 'Mungkin hanya pemeriksaan biasa,' begitu kata mereka. Tapi lalu diralat, karena mungkin dia mendengar sesuatu sehingga semua kendaraan dihentikan polisi," kata Nita yang sedang kuliah S2 di Political Communications di Goldsmith, Universitas London.

Berikutnya, pada Minggu malam kemarin, Nita juga melihat kejadian yang tidak biasa di stasiun kereta bawah tanah North Greenwich di London, dimana banyak orang sedang menunggu bus.

"Tiba-tiba semua orang berhamburan keluar. Ternyata ada orang kulit putih, sedang mengajak berantem semua orang di situ. Nggak ada yang meladeni. Tapi dia menyasar terus orang kulit hitam. Orang kulit hitam itu mencoba tidak melawan. Tapi karena ditinju terus, orang kulit hitam ini melawan balik, sampai yang kulit putih meringis kesakitan," cerita Nita.

Biasanya, kata Nita, setiap ada perkelahian pasti ada orang yang melerai. "Tapi malam ini beda. Tidak ada yang mau cari ribut. Begitu warga kulit putih itu terjatuh, semuaa orang berusaha keluar dan kabur naik bus," katanya.

Beberapa warga Indonesia lain juga merasa resah dengan perkembangan terakhir mengenai kondisi keamanan di London. Seorang WNI yang tinggal di Kilburn, sebelah barat daya kota London, juga waswas dan panik karena helikopter yang berputar-putar selama 30 menit terus-menerus di sekitar rumahnya.

"Kalau boleh jujur, aku takut dan khawatir. Tapi tidak berlebihan. Cukup membuat aware. Yang tadinya merasa kita aman, sekarang merasa agak sedikit tidak aman dan harus hati-hati. Tapi kalau aku takut pada semua orang yang berkulit putih, aku sama rasisnya dengan yang kulit putih," kata Nita.

Brexit, atau Britain Exit merupakan gerakan masif dalam beberapa tahun terakhir yang dimotori Partai Independen Inggris (UKIP) agar Inggris keluar dari keanggotaan Uni Eropa.

Pendukung Brexit menginginkan Inggris keluar dari Uni Eropa karena banyak imigran masuk ke negara itu, dan mengurangi jatah lapangan pekerjaan bagi warga lokal. Pendukung Brexit juga menguat karena isu penutupan pintu perbatasan dari para imigran.

Baca: Referendum Inggris, Brexit Menang!  

Kemenangan Brexit pada referendum, pada Jumat lalu, kemudian diikuti banyaknya laporan kejadian rasisme. Apalagi, sejumlah media di London Inggris terang-terangan mendukung Brexit dan kerap memberitakan sentimen terhadap imigran.

"Hari ini di media muncul berita, ada orang kulit putih Inggris yang menyuruh supaya orang Polandia keluar dari Inggris. Buat orang Asia, kulit orang Polandia itu sama putihnya dengan orang Inggris. Jadi ini bukan soal kulit putih, tapi soal kebangsaan. Orang yang bukan orang Inggris, bukan Inggris asli, harus keluar dari Inggris. Padahal mereka adalah warga United Kingdom, punya paspor sini," kata Nita yang sempat bergabung dengan Ashoka Indonesia.

Sebelumnya, referendum Brexit telah menelan satu korban jiwa yaitu anggota Parlemen Inggris Jo Cox dari Partai Buruh. Jo Cox merupakan seorang aktivis hukum yang vokal menyuarakan agar Inggris tetap berada di Uni Eropa. Jo Cox tewas terkena tembakan tiga butir peluru pada 16 Juni lalu di depan pendukungnya. Ia juga ditusuk berkali-kali, dan tewas di ambulan dalam perjalanan menuju rumah sakit. Pelaku penyerangan, Thomas Maier mengatakan, "Hukuman mati untuk pengkhianat, dan kemerdekaan untuk Inggris."

Namun, tokoh utama pendukung Brexit, Nigel Farage, pemimpin Partai UK Independence Party (UKIP) menyatakan, "kita berhasil memenangkan referendum ini tanpa satu butir pun tembakan peluru." (Huffpost/Guardian/BBC)
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!