Presiden terpilih Filipina, Rodrigo Duterte. (Foto: Wikimedia/Creative Commons)

KBR - Presiden terpilih Filipina, Rodrigo Duterte menyatakan pekerja media atau jurnalis yang korup layak dibunuh atau jadi target pembunuhan. 

Pernyataan Duterte ini makin menegaskan sikapnya dalam upaya membasmi kriminalitas di negara itu. Ia juga menawarkan hadiah bagi pembunuhan penyelundup narkoba.

Rodrigo Duterte merupakan sosok kontroversial dalam pemilihan presiden Filipina bulan ini. Sikap kontroversialnya itu terutama terkait cara yang akan ia gunakan untuk menghentikan kriminalitas di negara itu. Ia bahkan berencana membunuhi puluhan ribuan orang tersangka pelaku kriminal dalam enam bulan ini, terutama pelaku penyelundupan narkoba, pemerkosa dan pembunuh.

Namun, kontroversi itu justru membuatnya memenangkan pemilihan presiden bahkan dengan selisih jutaan suara dibandingkan calon lain.

Selasa kemarin ia mengumumkan kabinetnya dalam konferensi pers di kota kelahirannya, Davao. Di acara itu, Duterte juga tak segan menyinggung profesi jurnalis.

"Bukan berarti karena Anda seorang jurnalis, lantas Anda bebas dari pembunuhan, terutama jika itu bajingan," jawab Duterte ketika ditanya bagaimana ia menangani kasus pembunuhan jurnalis di negara itu. Pekan lalu, seorang reporter tewas ditembak di Manila. 

Filipina merupakan salah satu negara paling bahaya bagi kerja jurnalistik. Ada sekitar 174 kasus pembunuhan jurnalis, sejak peristiwa tergulingnya diktator Ferdinand Marcos pada 30-an tahun lalu.

"Kebanyakan dari mereka dibunuh, jujur saya katakan, karena mereka melakukan sesuatu (yang salah). Anda tidak akan dibunuh jika Anda tidak bersalah," kata Duterte yang dikenal dengan nama panggilan Digong.

Ia menambahkan banyak jurnalis di Filipina juga korup atau terlibat pidana.

Duterte menegaskan hak kebebasan berekspresi yang dijamin dalam konstitusi tidak otomatis melindungi seseorang dari kekerasan akibat pencemaran nama baik. 

"Konstitusi tidak akan bisa membantu Anda jika Anda tidak menghormati orang," tandas Duterte.

Duterte juga menyinggung kasus yang menimpa Jun Pala, seorang jurnalis dan politisi yang tewas dibunuh di Davao pada 2003. Seorang pria bersenjata menggunakan sepeda motor menembak mati Jun Pala, yang selama ini keras mengkritik Duterte. Kasus pembunuhan itu tidak pernah terungkap.

"Jika Anda seorang jurnalis yang benar, Anda tidak akan mengalami apa-apa. Sebaliknya. Contohnya Jun Pala. Dia itu bajingan busuk. Dia layak mati," tegas Duterte.

Rodrigo Duterte sudah memimpin Kota Davao Filipina sejak 1986 sebagai wakil walikota. Pada 1988 ia maju lagi dalam pemilihan dan terpilih sebagai walikota selama dua periode, hingga 1998. Karena tidak boleh lagi menjalonkan diri, Duterte maju ke pemilihan anggota senat untuk Kota Davao dan terpilih. Pada 2001, ia kembali maju dalam pemilihan sebagai walikota Davao dan terpilih lagi hingga 2010, dan terpilih lagi pada 2013. 

Duterte merupakan walikota terlama di Filipina, yang menjabat empat periode dengan total selama 22 tahun. Selama menjabat walikota Davao, ia kerap dituding memiliki pasukan khusus untuk membunuhi orang di luar proses pengadilan.

Salah satu kasus terbesar pembunuhan terhadap jurnalis di Filipina terjadi pada 2009, dimana 32 orang jurnalis dan 26 orang rombongan politisi tewas dibantai kelompok sipil bersenjata menjelang pemilu. Dalam kasus itu, lebih dari 100 orang diadili, termasuk keluarga Ampatuan yang dituduh mendalangi pembunuhan itu.

Namun, Rodrigo Duterte melanjutkan langkah kontroversialnya. Ia justru mengangkat Salvador Panelo, pengacara yang pernah membela keluarga Ampatuan dalam kasus pembantaian jurnalis itu, sebagai juru bicara kepresidenan. 

Rodrigo Duterte akan disumpah sebagai presiden ke-16 Filipina pada 30 Juni mendatang.

Terkait dengan pembersihan kriminalitas, Duterte menawarkan hadiah tiga juta peso atau sekitar Rp287 juta bagi siapa pun aparat yang bisa membunuh bos penyelundup narkoba. Jika yang terbunuh adalah jajaran anak buah, maka hadiah yang diberikan lebih kecil.

Duterte juga mengatakan akan memberikan perintah kepada pasukan khusus untuk "tembak langsung bunuh" terhadap pelaku penyelundupan narkoba.

Jika ada pejabat tinggi kepolisian yang ikut terlibat dalam penyelundupan narkoba, maka Duterte akan memerintahkan tentara untuk menembak mati pejabat itu.

Duterte juga meminta polisi tidak perlu menunggu pengambilan sumpah presiden dalam membunuhi para pelaku kriminal. "Sekarang, sekarang!" tandasnya. 

"Saya akan bersikap keras. Saya akan bersikap keras. Korupsi haram jadah, saya akan keras!" katanya usai mengumumkan susunan kabinet.

Sebelumnya, kepolisian Filipina memastikan telah menembak mati 15 orang dalam serangkaian penggerebekan terkait narkoba di berbagai daerah dalam kurun waktu sepekan. (AFP/Inquirer/Philstar)

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!