Poster referendum Uni Eropa dari Partai United Kingdon Independence (UKIP) melewati Dewan Parlemen di London, Inggris, Kamis (16/6). Partai UKIP menjadi motor gerakan Brexit. (Foto: ANTARA/Reuters)

KBR - Meski survei yang dilakukan lembaga YouGov menempatkan pendukung Brexit kalah tipis, namun penghitungan suara mulai memperlihatkan kubu Brexit unggul.

Brexit atau Briton Exit adalah kampanye untuk memenangkan referendum nasional keluar dari keanggotaan Uni Eropa.

Referendum itu memilih antara Remain (bertahan di Uni Eropa) atau Leave (keluar dari Uni Eropa).

Kemenangan demi kemenangan diraih kubu Brexit atau pendukung jawaban Leave.

Hingga Jumat pukul 11.28 WIB, penghitungan suara sudah mencapai 91,4 persen, pendukung Brexit atau Leave mencapai 51,9 persen. Sedangkan pendukung Remain hanya 48,1 persen.

Pendukung Brexit kebanyakan berada di di Inggris dan Wales, dimana dukungan mencapai 54 persen. Sementara di Wales dan Irlandia Utara, lebih dari 55 persen mendukung Inggris tetap berada di Uni Eropa.

Bahkan di Kota Newcastle, yang semula diprediksi pendukung Remain mencapai 66,8 persen, saat penghitungan suara faktual justru hanya 50,7 persen.

Kejutan juga muncul di Kota Sunderland. Semula diprediksi hanya 53 persen saja populasi yang mendukung Brexit. Ternyata, lebih dari 61 persen menginginkan keluar dari Uni Eropa.

Pemimpin gerakan kampanye Brexit, Nigel Farage sempat mengatakan, Brexit kalah. Namun belakangan ia mulai optimistis. Ia bahkan sudah menyampaikan pidato kemenangan.

"Jika perkiraan sekarang ini benar, maka ini akan menjadi kemenangan nyata bagi rakyat, kemenangan rakyat biasa. Kita harus melawan kelompok multinasional, melawan bank-bank besar, melawan politik raksasa, melawan kebohongan-kebohongan, korupsi, penyelewengan... dan demi negara ini, saya fikir kali ini kita akan menang. Kita akan memenangi pertarungan ini tanpa harus berkelahi, tanpa menembakkan sebutir pun peluru. Saya harap kemenangan ini bisa membawa kita kepada kedaulatan bangsa. Mari kita catat tanggal 23 Juni ini sebagai hari kemerdekaan kita," kata Nigel Farage.

Sementara itu, seorang petinggi Partai Buruh, Hillary Benn menilai David Cameron harus mundur dari jabatan perdana menteri jika hasil referendum ternyata memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa. Hillary Benn menentang Brexit dan menginginkan Inggris tetap berada di Uni Eropa. (Telegraph/Reuters/BBC) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!