Presiden Amerika Serikat Barack Obama (Foto: BBC)

Presiden Barack Obama (Foto: BBC)

KBR - Presiden Amerika Serikat Barack Obama menggambarkan penembakan massal pada Minggu dini hari waktu setempat di sebuah klub gay di Orlando sebagai ‘tindakan teror dan kebencian’. Menurut Obama, ini adalah peringatan kesekian kali soal betapa mudahnya mendapatkan senjata dan menembak orang di Amerika.

“Kita harus memutuskan wajah Amerika di masa mendatang. Tidak melakukan apa pun secara aktif juga adalah sebuah keputusan,” kata Presiden Obama yang selama ini berkampanye untuk aturan yang lebih ketat untuk kepemilikan senjata.

Obama menambahkan, ini adalah hari yang sedih bagi komunitas LGBT. Ia menyebut, serangan terhadap orang Amerika mana pun adalah serangatan terhadap semua orang Amerika. Untuk itu, ia memerintahkan gedung-gedung federal untuk memasang bendera setengah tiang sampai matahari terbenam sampai hari Kamis mendatang.

Penembakan ini menjadi serangan terparah dalam sejarah penembakan massal di Amerika Serikat. Sebelumnya, penembakan massal di Virginia Tech pada 2007 menewaskan 32 orang. Saat ini, diberlakukan status darurat di Kota Orlando dan sekitarnya.

Penembakan massal ini dilakukan oleh Omar Mateen (29) yang menewaskan 50 orang dan membuat 53 orang luka-luka di Klub Pulse. Mateen ditembak mati oleh polisi di tempat kejadian. Sejauh ini ISIS mengklaim berada di balik serangan ini, tapi belum jelas bagaimana bentuk keterlibatannya. Sebelum menembak, Mateen menelfon layanan 911 dan menyatakan keterkaitannya dengan ISIS.

Mateen adalah seorang warga negara Amerika Serikat keturunan Afghanistan. Ia lahir di New York dan tinggal di Florida. Mateen tidak  masuk dalam daftar pengawasan terorisme, tapi FBI pernah dua kali mewawancarai Mateen. Ia juga diketahui membeli beberapa senjata secara legal dalam beberapa hari terakhir. Bekas istri Mateen menyatakan kepada Washington Post kalau Mateen berada dalam kondisi ‘tidak stabil’, serta memiliki sikap yang mudah marah dan beberapa kali memukuli dirinya selama masa perkawinan. Misalnya, ketika bekas istri Mateen itu tidak mencuci pakaian. (BBC, Washington Post)

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!