Perdana Menteri Inggris David Cameron bersama Walikota London Sadiq Khan saat menghadiri kampanye "Britain Stronger in Europe" di West London, Inggris, Senin (30/5). Mereka mengkampanyekan Vote Remain, untuk bertahan di Uni Eropa. (Foto: ANTARA)

KBR - Inggris akan menggelar referendum pada 23 Juni mendatang untuk menentukan apakah negara itu tetap akan berada di dalam naungan Uni Eropa atau keluar dari perserikatan itu.

Referendum itu kemudian dikenal dengan istilah Brexit, 'Britain Exit'.

Sejumlah negara anggota Uni Eropa kini melihat dengan harap-harap cemas apa yang akan diputuskan oleh Inggris.

Sejumlah pejabat di Eropa menilai Inggris akan menderita atas pilihannya, jika sampai keluar dari blok Uni Eropa.

"Saya berharap dan percaya bahwa Inggris akan menolak Brexit. Keluarnya Inggris dari EU akan menjadi kerugian besar bagi Eropa," kata Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schauble kepada majalah Spiegel.

Majalah Spiegel baru-baru ini menyajikan laporan utama dengan sampul bergambar bendera Inggris, berjudul "Bitte Geht Nicht" alias Jangan Pergi!

Presiden Dewan Eropa Donald Tusk menyebutkan jika sampai Inggris keluar dari Uni Eropa, maka seluruh anggota UE akan menderita seperti pasca perang Eropa di masa damai.

"Mengapa ini begitu bahaya?" kata Tusk. "Tidak ada orang yang bisa membayangkan konsekuensi jangka panjang yang akan terjadi. Sebagai sejarawan, saya takut jika Brexit akan menjadi awal kehancuran tidak hanya bagi Uni Eropa tapi juga bagi peradaban politik Barat."

Inggris akan menghadapi setidaknya tujuh tahun ketidak pastian yang menyakitkan bernegosiasi mengenai hubungan baru dengan Uni Eropa dan lainnya.

Untuk mengantisipasi keluarnya Inggris, pemerintah Prancis dan Jerman berdiskusi mengenai perlunya membuat kerjasama keamanan Eropa untuk menunjukkan setidaknya UE tetap solid dan melanjutkan aktivitas tanpa Inggris.

Saat ini Prancis dan Belgia, dan juga Jerman, kemungkinan akan menolak apapun usulan Inggris jika keluar dari Uni Eropa namun menginginkan tetap berada dalam satu pasar tunggal. Kecuali, jika dengan syarat Inggris tetap mengizinkan warga Eropa lain tinggal dan kerja di negara itu.

"Tidak ada makan gratis di dunia ini," kata Camille Grand, Direktur Foundation for Strategic Research di Prancis. "Apapun yang dikatakan atau dirasakan oleh Inggris, ada harga yang harus dibayar. Jika kamu pergi, pergi saja. Dan kami tidak akan menjamin kamu bisa tetap mendapat manfaat dari pasar tunggal Uni Eropa."


Mengapa Brexit?

Referendum akan melibatkan setiap warga negara Inggris yang punya hak pilih. Biasanya menjawab "Ya" atau "tidak" terhadap pertanyaan yang diajukan. Pilihan yang mendapat dukungan lebih dari setengah pemilih akan memenangkan referendum.

Referendum ini diserukan oleh kalangan anggota parlemen dari kubu konservatif dan dari partai independen. Mereka beralasan, sejak negara itu bergabung dengan Uni Eropa lewat referendum 1975, orang Inggris tidak leluasa berpendapat untuk mengatur diri sendiri.

Para pendukung referendum menganggap Uni Eropa sudah terlalu banyak mengatur kehidupan sehari-hari mereka.

Permintaan itu kemudian mendapat tanggapan dari Perdana Menteri David Cameron yang juga berasal dari Partai Konservatif. Ia berjanji akan menggelar referendum jika terpilih kembali pada pemilu 2015.

Sejak menjabat perdana menteri pada 2010, ia menjadi perdana menteri Inggris pertama yang mengajukan veto atas perjanjian Uni Eropa. Ia juga setuju menggelar referendum kemerdekaan Skotlandia pada 2014, yang hasilnya adalah 'tidak setuju merdeka'.

Pada 2013 lalu, David Cameron menjanjikan referendum "Masuk/Keluar" dari Uni Eropa, sebelum masa jabatannya berakhir 2017.

"Ini saatnya bagi warga Inggris untuk menyampaikan suaranya. Ini saatnya menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan dari Eropa dengan politik ala Inggris," kata David Cameron.

Uni Eropa merupakan kerjasama perserikatan negara-negara di kawasan Benua Eropa di bidang politik dan ekonomi. Saat ini beranggotakan 28 negara.

Sejak terbentuk, Uni Eropa kemudian menjadi satu pasar besar, menjadi satu negara (dengan ibukota di Brussels Belgia) yang menaungi 28 negara bagian. Uni Eropa memiliki mata uang sendiri yaitu euro, punya parlemen sendiri, dan juga punya peraturan-peraturan yang meliputi banyak bidang seperti lingkungan, transportasi, hak konsumen, bahkan hingga aturan pembuatan charger telepon selular.

David Cameron menjanjikan banyak hal jika ternyata Inggris akhirnya keluar dari Uni Eropa. Termasuk kemandirian Inggris mengurusi urusan sendiri tanpa campur tangan Uni Eropa.

Meski begitu, David Cameron berada di balik grup kampanye untuk tetap berada di dalam Uni Eropa, lewat kampanye lintas partai "Britain Stronger in Europe".

Berdasarkan jajak pendapat, ternyata pendapat warga Inggris Raya---yang meliputi Inggris, Irlandia dan Persemakmuran---terpecah.

Warga yang setuju keluar dari Uni Eropa---termasuk sebagian anggota Partai Konsertatif dan lain-lain, menyatakan Uni Eropa sudah membelenggu Inggris dan berdampak pada banyak kegiatan bisnis. Mereka juga menolak model perserikatan negara yang mengarah pada bentuk negara Eropa Serikat (United States of Europe).

Sementara warga yang setuju tetap bertahan di Uni Eropa terus berkampanye, bahwa warga Inggris mendapat banyak manfaat dari Uni Eropa. Diantaranya lebih mudah menjual barang ke negara anggota, mempermudah pencarian kerja karena perpindahan warga dari satu negara ke negara lain lebih mudah tanpa visa, dan bisa membantu mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Mereka juga percaya, Inggris akan lebih aman bertahan di organisasi itu, dan Inggris akan rugi dan hancur jika sampai keluar dari Uni Eropa.

Referendum akan di digelar di 382 tempat pemungutan suara di berbagai wilayah di Inggris Raya. Hasilnya akan diumumkan langsung setelah selesai dihitung di masing-masing tingkatan penghitungan.(BBC/New York Times/Guardian)

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!