Peneliti Temukan Biodiesel dari Tebu Untuk Gantikan Avtur

Temuan itu diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Minggu, 14 Jun 2015 14:21 WIB

Ilustrasi pengisian avtur. Foto: Antara

KBR - Sejumlah peneliti telah menemukan cara baru untuk memproduksi bahan bakar pesawat dari tanaman tebu yang dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar.Temuan itu diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences. Gabungan komponen kimia yang bersumber dari gula tebu serta beberapa bahan ampas tebu yang disebut bagasse itu kemudian diolah menjadi bahan bakar dan pelumas pesawat jet.

Menurut salah seorang peneliti, Alexis Bell dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat, pembuatan bahan bakar ramah lingkungan itu sangat rumit, mengingat bahan bakar pesawat punya beragam kriteria ketat. Kriteria itu diantaranya adalah tidak mengandung oksigen karena akan mengurangi kepadatan energy. Selain itu, kriteria yang lain adalah memiliki distribusi titik didih yang tepat dan harus memiliki sifat seperti pelumasan supaya tidak menyebabkan keausan berlebih pada komponen turbin. Sedangkan kriteria terakhir, bahan bakar tersebut juga harus memiliki titik tuang yang sangat rendah supaya bahan bakar tidak berubah menjadi gel ketika pesawat berada di Strastosfer yang bersuhu sangat rendah mencapai minus 50 derajat celcius. Apa yang telah dikembangkan oleh para peneliti sejauh ini telah memenuhi semua kriteria tersebut.

Pencarian biofuel untuk pesawat terbang muncul pada akhir tahun 2000an ketika sejumlah penerbangan menggunakan campuran bahan bakar tradisional dan bahan bakar dari tanaman. Pada Februari 2008, penerbangan komersil pertama yang sebagian menggunakan biofuel (diperoleh dari campuran kelapa dan kacang babassu) lepas landas dari bandara Heathrow di London. Setelah ditinjau oleh perancang pesawat terbang, produsen mesin, dan produsen bahan bakar, penggunaan biofuel untuk pesawat komersil diijinkan pada 2011. Bell mengatakan kelompoknya berharap temuan mereka akan  digunakan oleh produsen bahan bakar pesawat komersial. (BBC) 

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas

  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

PPATK: Bank Daerah Rawan Digunakan Buat Kepentingan Pilkada

  • Cakupan Imunisasi Campak di Asmat 2017 Hanya 17 Persen
  • Faktor Geografis Jadi Kendali Besar Penanganan Wabah Campak di Asmat
  • Pengganti Sanchez Segera Merapat ke Arsenal

Lewat olahraga kita bisa menyuarakan sesuatu dan bahkan menggalang dana