Gadis Korea Utara membawa kayu bakar di punggung mereka saat berjalan di tepi Sungai Yalu, 100km dari kota Sinuiju di seberang kota perbatasan Tiongkok, Dandong. Foto: Antara

KBR - Korea Utara menghadapi kekeringan yang disebut-sebut sebagai kekeringan terburuk dalam satu abad terakhir. Kondisi ini memicu kekhawatiran makin parahnya krisis pangan di sana. Kantor berita negara KCNA mengatakan provinsi penghasil utama padi sudah mengalami dampaknya dan 30% lebih sawah di sana telah "terpanggang."

KCNA mengatakan penanaman padi telah selesai di lebih dari 441.560 hektar sawah, akan tetapi 136.200 hektar diantaranya mengering dan terancam gagal panen. Dampak paling parah terjadi di Provinsi Hwanghae Selatan dan Hwanghae Utara, dimana sampai 80% dari bibit padi mengering di beberapa daerah. Phyongan Selatan dan Hamgyong Selatan pun tak luput dari kekeringan ini. Upaya untuk menanam tanaman lain juga telah dicoba untuk "mengurangi kerusakan."

Ratusan ribu warga Korea Utara bahkan diyakini telah tewas selama kelaparan pada 1990-an. Sementara Badan PBB untuk Program Pangan Dunia mengatakan Korea Utara secara rutin menghadapi kekurangan pangan yang signifikan dan saat ini sekitar sepertiga dari anak-anak di negara tersebut kekurangan gizi. Duta Besar Denmark untuk Korea Utara dan Selatan, Thomas Lehman mengatakan kepada Reuters bahwa ia telah mengunjungi daerah terdampak kekeringan di Utara pada bulan Mei. Untuk tahun lalu saja, negara ini mendapat curah hujan terendah dalam 30 tahun terakhir. (BBC) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!