Korban Tewas Gelombang Panas Pakistan Hampir 700 Orang

Pejabat kesehatan Provinsi Sindh, Saeed Mangnejo mengatakan 613 orang meninggal hanya dalam kurun waktu empat hari.

Rabu, 24 Jun 2015 13:15 WIB

Ilustrasi gelombang panas

KBR - Gelombang panas yang menerjang Pakistan diperkirakan menelan korban tewas sebanyak 700 orang hingga  Selasa (23/6/2015) kemarin. Hal tersebut dipastikan oleh pemerintah Kota Karachi di Pakistan.

Pejabat kesehatan Provinsi Sindh, Saeed Mangnejo mengatakan, 613 orang meninggal hanya dalam kurun waktu empat hari, setelah masuk di Rumah Sakit Kota Karachi. Selain itu, ia juga mengatakan terdapat 80 orang lainnya yang meninggal di rumah sakit swasta.

Keadaan ini diperparah dengan penerapan pemadaman listrik oleh Pemerintah Pakistan sehingga warga kesulitan menggunakan pendingin ruangan (AC) dan kipas angin. Padahal sebelumnya, Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif berjanji tidak akan terjadi pemadaman, namun pemadaman semakin sering terjadi sejak awal Ramadan.

Sementara Badan Meteorologi Pakistan memperkirakan, cuaca akan mendingin pada pekan ini. Suhu tertinggi yang pernah dialami Karachi ialah 47 derajat celsius pada 1979. (BBC)


Editor : Sasmito Madrim

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas

  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Kepala KSP Moeldoko Tepis Anggapan Miring

  • Izin Impor Beras Dialihkan, PT PPI Tak Keberatan
  • BNPB Siapkan Anggaran Rp 166 Miliar untuk Perbaiki Rumah Korban Banjir Bima
  • PS TNI Gagal Menang Melawan 10 Pemain Persebaya

Memberdayakan masyarakat bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya seperti apa yang dilakukan anak-anak muda asal Yogyakarta ini melalu platform digital yang mereka namai IWAK.