FIFA Bantah Sekjennya Terima Suap

FIFA mengatakan uang 10 juta dollar itu untuk mendukung pengembangan sepak bola di kawasan Karibia

Selasa, 02 Jun 2015 21:13 WIB

Sekretaris Jenderal FIFA Jerome Valcke. Foto: Antara

Sekretaris Jenderal FIFA Jerome Valcke. Foto: Antara

KBR - Organisasi sepak bola dunia FIFA membantah Sekretaris Jenderalnya, Jerome Valcke, terlibat kasus suap 10 juta dolar atau sekitar Rp 132 miliar.

Kasus itu kini tengah diselidiki oleh aparat penegak hukum di Amerika Serikat.  Jaksa Amerika mengatakan pembayaran tersebut adalah uang suap untuk memastikan Piala Dunia 2010 diselenggarakan di Afrika Selatan. Namun FIFA mengatakan ini adalah pembayaran dari pemerintah Afrika Selatan untuk mendukung pengembangan sepak bola di kawasan Karibia. FIFA juga mengatakan tidak ada keterlibatan pejabat-pejabat senior dalam persetujuan atau pengiriman uang tersebut.

Badan sepak bola ini mengeluarkan bantahan setelah surat kabar New York Times dan beberapa koran lain edisi hari ini memberitakan dugaan keterlibatan Valcke dalam pembayaran dana tersebut. (BBC Indonesia)

Editor: Malika

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

Penyidik Masih Tunggu Hasil Otopsi Jenazah La Gode

  • KPAI: Anggaran Dana Desa Harus Meningkatkan Kesehatan Anak
  • Natal dan Tahun Baru, Bandara Ngurah Rai Siapkan Posko Terpadu
  • Turki Bakal Buka Kedutaan Besar Di Yerusalem Timur

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi