Aktivis LGBT berdemonstrasi selama kegiatan Pohela Boishakh Tahun Baru kalender Bengali di Dhaka Bangladesh tahun 2015. (Foto: Nahid Sultan/Wikipedia/Creative Commons CC-BY-SA 4.0)

KBR - Peringatan Hari Melawan Homophobia dan Transgender (IDAHOT) 17 Mei 2016 dirasakan para aktivis pembela hak-hak LGBT di Bangladesh dalam suasana mencekam.

Sejumlah aktivis pembela LGBT di negara itu terus mendapat ancaman pembunuhan dari kelompok radikal. Apalagi, pekan lalu salah seorang aktivis LGBT dan temannya dibunuh di apartemen oleh sekelompok orang yang diduga dari milisi Islam radikal.

Kasus itu menambah daftar aktivis LGBT yang tewas dibunuh di Bangladesh. Pada 25 April lalu, Xulhaz Mannan, seorang editor majalah bertema LGBT dan temannya Rabbi Tonoy dibunuh di Dhakka.

Reuters memberitakan sejumlah aktivis lain di Kota Dhaka juga menerima surat ancaman pembunuhan.

"Berdoalah, bertobatlah pada Tuhan atas dosa-dosamu. Makan dan minum sepuasmu, karena tidak ada yang bisa menyelamatkanmu," begitu isi surat ancaman tulisan tangan yang diterima aktivis LGBT di Dhaka.

Kondisi di negara itu sangat mengkhawatirkan bagi komunitas dan aktivis pembela hak LGBT, hingga tidak ada yang bersedia diwawancara media, kecuali seorang aktivis. Itu pun dengan nama disamarkan. Banyak yang menyamarkan foto-foto mereka di Facebok atau menutup akun di media sosial.

Beberapa diantaranya bahkan harus bersembunyi di rumah aman di Dhaka. Sementara lainnya terpaksa menyelamatkan diri ke luar negeri.

Komunitas LGBT di Bangladesh terus terpojokkan, karena negara itu melarang aktivitas seksual sejenis.

Serangan-serangan terhadap GLBTH di Bangladesh diklaim dilakukan oleh kelompok radikal lokal yang bergabung dengan Alqaeda maupun ISIS. Salah satunya mengatasnamakan al Qaeda in the Indian Subcontinent (AQIS).

Ini merupakan serangan kali pertama terhadap komunitas dan aktivis LGBT. Sebelumnya, kelompok ini juga terlibat pembunuhan terhadap sejumlah dosen, blogger dan ateis yang mempublikasikan kritik terhadap Islam.

Sejak Februari 2015, sedikitnya 23 orang tewas akibat serangan kelompok radikal yang bersenjatakan parang atau golok. Sebagian besar pembunuhan dilakukan di rumah korban, dan sebagian lagi terjadi di siang hari bolong di ruang publik.

Aparat kepolisian di Bangladesh telah menangkap seorang yang diduga terlibat pembunuhan aktivis LGBT. Pria itu diidentifikasi sebagai Shariful Islam Shihab, berumur 37 tahun. Ia anggota Ansharullah Bangla Team, kelompok milisi lokal.

Polisi di Bangladesh menyebut Shariful memiliki senjata yang diduga digunakan untuk membunuh para korban.

Polisi juga menangkap sejumlah orang lain yang diduga anggota kelompok Ansharullah Bangla Team dalam kasus itu.

Pengamat terorisme setempat menyebutkan, organisasi Ansharullah Bangla Team, juga kerap disebut Ansar Bangla, berafiliasi dengan Alqaeda wilayah India (AQIS). (Reuters/DW/CNN)


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!