Geraldine Roman, Politisi Transgender Pertama di Filipina

Saat masih di sekolah, kerap jadi sasaran bullying.

Selasa, 10 Mei 2016 15:54 WIB

Geraldine Roman, politisi transgender pertama di Filipina yang menempati jabatan publik. (Foto: AFP)

Geraldine Roman, politisi transgender pertama di Filipina yang menempati jabatan publik. (Foto: AFP)

KBR - Untuk kali pertama, Filipina memiliki politisi transgender yang menempati jabatan publik. Geraldine Roman terlahir sebagai  laki-laki dan telah hidup sebagai perempuan selama 20 tahun. Geraldine saat ini terpilih menduduki jabatan publik di kongres di Bataan. Ia mendapatkan 23 ribu suara, unggul jauh daripada pesaing terdekatnya yang hanya mengumpulkan 10 ribu suara.

Roman sempat menghabiskan beberapa tahun di Spanyol. Di sana ia bekerja sebagai editor di kantor berita Spanyol. Tahun 2012, ia kembali ke kampong halamannya, Provinsi Bataan, untuk merawat orangtuanya yang sudah lanjut usia. Ia juga berjanji untuk meneruskan karir politik orangtuanya. Jabatan publik yang dipegang Roman sekarang sebelumnya dipegang oleh sang ibu.

Kedua orangtua Roman selalu mendukung kondisinya. Sang ayah juga memintanya tetap ‘percaya diri’ meski seringkali jadi korban bullying karena identitas gendernya di sekolah.

“Saya yang berhasil masuk ke kongres untuk kali pertama adalah sebuah pernyataan bahwa bahkan seorang transgender bisa berbakti kepada negara dan tidak boleh didiskriminasi,” kata Roman saat kampanye.

Saat ini tidak ada politisi Filipina yang secara terbuka mengakui identitasnya sebagai LGBT. Sebelumnya, petinju terkenal sekaligus politisi Filipina, Manny Pacquiao bahkan menyebut bahwa ‘homoseksual lebih buruk daripada binatang’. Pacquiao sudah minta maaf atas pernyataan tersebut.

Filipina dinilai sebagai salah satu negara ramah LGBT di Asia, meski komunitas itu kadang mendapatkan diskriminasi. (ABC, BBC) 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP

  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Arsul Sani: KPK Jangan Bernafsu Tangani Korupsi Swasta

  • BPBD Lebak: Gempa Hantam 9 Kecamatan
  • Jerat Hari Budiawan, Warga Tumpang Pitu Protes Putusan Hakim
  • Gunakan GBK, Persija Naikan Tiket Pertandingan Piala AFC

Padahal para pekerja di kedua jenis industri ini kerap dituntut bekerja melebihi jam kerja dan juga kreativitas yang tak terbatas.