Badai Siklon Roanu Bangladesh, Puluhan Ribu Warga Mengungsi

Badai Siklon Roanu menghantam Bangladesh, Sabtu (21/5) disertai hujan deras dan angin kencang. Akibatnya, lima orang tewas dan puluhan ribu lainnya terpaksa mengungsi.

Sabtu, 21 Mei 2016 17:04 WIB

Petugas pemerintah kota membantu warga saat penanganan bencana, akibat hujan deras di Dhaka, Bangladesh. (Foto: EPA)

KBR - Badai Siklon Roanu menghantam Bangladesh, Sabtu (21/5) disertai hujan deras dan angin kencang. Akibatnya, lima orang tewas dan puluhan ribu lainnya terpaksa mengungsi.

Pejabat setempat memperkirakan, badai tersebut melanda pesisir pantai Bangladesh pada pukul 12.00 waktu setempat dengan kecepatan angin 88 kilometer per jam. Sekitar 60 ribu orang dievakuasi ke tempat penampungan, setelah muncul peringatakan potensi banjir setinggi 1,5 meter di desa dan kota sepanjang pantai.

"Badai itu akan melanda daratan di antara Barisal dan Pantai Chittagong," jelas prakirawan Departemen Meterorologi pemerintah, Ruhul QUddus kepada AFP.

Dia pun menambahkan, angin yang dipicu badai telah terlebih dulu menghantam wilayah pesisir.

Sementara itu, polisi mencatat, sebanyak lima orang tercatat tewas dan, ratusan rumah di dua kabupaten tergenang lumpur. Setelah topan diikuti hujan deras dan angin kencang.

"Seorang ibu dan seorang bocah tewas setelah longsor mengubur rumah mereka di tepi bukit Sitakundu, Chittagong. Longsor disebabkan hujan deras," kata seorang inspektur polisi, Shah Alam.

Kini, otoritas bencana menutup pelabuhan dan memerintahkan kapal pukat ikan untuk tak melaut. Sedangkan petugas dari badan meteorologi memperingatkan potensi longsor susulan di kabupaten atau distrik bukit tenggara. Petugas di badan penanggulangan bencana menyatakan siap mengevakuasi lebih dari 2 juta orang ke setidaknya 4 ribu tempat penampungan di bagian selatan negara tersebut. (The Straits Times)

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.