Sidang Penembak Aktivis Perempuan Mesir Dimulai

Shaimaa tewas setelah diberondong peluru oleh seorang polisi ketika melakukan protes damai di Kairo.

Senin, 11 Mei 2015 12:45 WIB

Aktivis Partai Sekutu Sosialis Populer (SPAP) Shaima al-Sabbagh dibantu seseorang setelah ditembak saat aksi protes di Kairo, Sabtu (24/1/15). Foto: Antara

KBR - Seorang letnan polisi 24 tahun bernama Yassin Hatem Salahedeen, didakwa dengan pembunuhan atas kematian Shaimaa al-Sabbagh. Shaimaa tewas setelah diberondong peluru oleh seorang polisi ketika melakukan protes damai di Kairo pada bulan Januari. Saat-saat terakhirnya tertangkap di video dan tersebar di dunia maya, hingga memicu gelombang kemarahan di dalam Mesir.

Hakim pun memerintahkan penahanan Salahedeen di sidang pembukaan hari Minggu (10/5) setelah sebelumnya bebas dengan jaminan. Dalam hari-hari berikutnya polisi Mesir membantah bahwa mereka melepaskan tembakan terhadap demonstran. Namun, dalam menghadapi tekanan di masyarakat Mesir, Presiden Abdel Fattah el-Sisi pun campur tangan. Ia berjanji untuk adanya penyelidikan penuh, dan mengeluarkan pernyataan yang menganggap bahwa Shaimaa sebagai "anak sendiri". Sidang akan dilanjutkan 14 Mei 2015 ketika penuntutan saksi akan bersaksi.

Sebelumnya kematian penyair serta aktivis politik perempuan berumur 32 tahun ini mengejutkan masyarakat Mesir. Pada tanggal 24 Januari lalu, Ibu dari seorang anak berumur lima tahun itu berjalan dengan teman-temannya ke Kairo Tahrir Square untuk meletakkan karangan bunga dalam mengenang revolusi 2011 ketika polisi menembaki kelompoknya dengan gas air mata dan peluru. Rekaman menunjukkan Shaimaa roboh ke tanah dalam pelukan temannya. Menurut Human Right Watch, kepolisian Mesir telah menjadi sumber protes ketika tercatat 1.150 pengunjuk rasa tewas untuk kurun Bulan Juli dan Agustus 2013 saja. (BBC)

Editor: Damar Fery

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.