Pemerintah Nepal Lamban Tangani Bantuan Gempa

Masyarakat Nepal lebih memilih tidur di luar meski rumah mereka dalam kondisi baik.

Kamis, 28 Mei 2015 10:37 WIB

Gempa Nepal. Foto: Antara

KBR, Jakarta – Upaya penanggulangan bencana gempa yang mengguncang Nepal pada 25 April dan 12 Mei lalu terhambat oleh lambannya pemerintah mengeluarkan keputusan. Hal tersebut dikungkap Sekretaris Jenderal Dewan Gereja di Nepal, Rokaya usai Sidang Raya Dewan Gereja-gereja Asia (CCA) ke-14 di Ancol, Jakarta. Menurut dia, banyaknya partai politik yang menghuni parlemen Nepal, yaitu sebanyak 33 partai, menyebabkan keputusan menerima bantuan dari luar negeri menjadi sulit untuk diambil.

“Masalahnya pemerintah Nepal tidak kuat, lemah dan banyak parpol di parelemen Karena itu tidak kerjasama baik dan memutuskan lembaga kemanusiaan tidak bisa diputuskan bikin apa,” jelas Rokaya yang dibantu oleh Pdt. Gomar Gultom untuk mengartikannya dalam Bahasa Indonesia di Jakarta, Rabu (27/5/2015).

Selain itu, Rokaya juga mengungkap masyarakat Nepal saat ini tengah dilanda trauma gempa, yang menyebabkan mereka lebih memilih tidur di luar meski rumah mereka dalam kondisi baik.

Dua kali gempa Nepal yang berkekuatan di kisaran 7,9 SR telah menelan 10.000 jiwa dan merusak ratusan bangunan, termasuk bangunan pemerintahan. Ia menambahkan hingga hari ini Perdana Menteri Nepal masih melakukan rapat di bawah tenda karena bangunan PM rusak akibat gempa.


Editor: Quinawaty Pasaribu

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Indonesia masih menghadapi masalah jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi. Pertambahan jumlah penduduk tidak seimbang dengan pertumbuhan kesempatan kerja.