Karya seni berbentuk mesjid di gereja Venice (Foto: NY Times)

Karya seni berbentuk mesjid di gereja Venice (Foto: NY Times)

KBR - Kepolisian Venice, Italia, menutup instalasi seni yang berbentuk mesjid yang tetap bisa dipakai beribadah hari Jumat (22/5/2015) waktu setempat. Sebelumnya pejabat kota tersebut mengumumkan karya seni ini mendapat ancaman keamanan. Menurut mereka, sang seniman Christoph Buchel, juga tidak mendapat izin untuk membuat karya seni ini. Buchel juga dianggap melanggar hukum karena mempersilakan orang-orang untuk beribadah di dalam karya seni berbentuk mesjid ini.

“Polisi datang dan minta supaya ini ditutup,” kata Buchel kepada New York Times dalam wawancara lewat Skype dari Swiss.

“Mereka membawa dokumen sampai 3-4 lembar yang mengatakan bahwa ini melanggar aturan dan tidak boleh dibiarkan berdiri.”

Buchen mengaku masih akan melawan penutupan tersebut dan berharap bisa membuka kembali instalasi seninya. Tapi sampai terjadi kesepakatan, instalasi seni ini dinyatakan tutup.

Karya seni ini dianggap kontroversial dan mulai berdiri pada 8 Mei 20015. Karya berbentuk mesjid ini dibangun di dalam sebuah gereja Katolik yang tidak terpakai dan dimaksudkan sebagai karya seni dalam rangka Venice Bienalle yang ke-56. Menurut Buchel, karya ini dimasudkan untuk menunjukkan tiadanya mesjid di tengah kota Venice, yang sebetulnya banyak terpengaruh Islam dari segi budaya dan arsitektur.

Sementara itu bagi pejabat keamanan di Venice, karya seni berbentuk mesjid ini memunculkan potensi ancaman dari kelompok Islam ekstrimis karena ‘mesjid’ dibangun di dalam gereja. Sejak instalasi seni ini dibuka, ratusan penduduk Muslim di Venice dan daerah sekitarnya datang untuk melihat atau bahkan beribadah di dalamnya. Tidak ada insiden apa pun yang terjadi. (New York Times) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!