Berencana Gabung ISIS, Singapura Tangkap Dua Remaja

Kementerian Dalam Negeri Singapura juga menemukan tanda-tanda remaja itu sedang mempertimbangkan cara untuk menyerang lokasi tertentu.

Kamis, 28 Mei 2015 12:47 WIB

Bendera ISIS. Foto: Antara

KBR - Dua remaja Singapura ditangkap pihak berwenang lantaran diduga berencana bergabung dengan Kelompok Militan ISIS. Salah seorang remaja berusia 19, Arifil Azim Putra diduga merencanakan serangan di sejumlah tempat umum di Singapura. Seorang remaja lain usia 17 yang tidak disebutkan namanya, juga ditahan dengan tuduhan serupa. Kementerian Dalam Negeri Singapura menyatakan, Arifil diketahui menghubungi beberapa orang yang dianggapnya bisa membantunya untuk bergabung dengan ISIS. Dia pun diketahui tengah meneliti rute perjalanan menuju Suriah.

Selain itu, Kementerian Dalam Negeri Singapura juga menemukan tanda-tanda remaja itu sedang mempertimbangkan cara untuk menyerang lokasi tertentu, membunuh pejabat pemerintah dan meneliti pembuatan bahan peledak.

Singapura sejauh ini telah menahan lebih dari 60 orang sejak tahun 2002 dengan alasan kegiatan yang terkait terorisme. (BBC) 


Editor: Quinawaty Pasaribu

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob

  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

pernah melihat atau bahkan mengalami sendiri perlakuan diskriminatif / ujaran kebencian di ruang pendidikan, tempat kerja, lembaga pemerintahan, dan ruang publik lainnya tapi tidak tahu lapor kemana?