Ada Kuburan Massal Diduga Korban Perdagangan Manusia

Kuburan massal itu diyakini berisi jenazah mayat ratusan migran dari Myanmar dan Bangladesh.

Minggu, 24 Mei 2015 16:43 WIB

Ilustrasi Kuburan Massal. Foto: Antara

KBR - Kuburan massal dan sebuah tempat yang diduga merupakan kamp penahanan korban perdagangan manusia ditemukan polisi Malaysia di sekitar daerah perbatasan Thailand hari ini.

Kuburan massal itu diyakini berisi jenazah mayat ratusan migran dari Myanmar dan Bangladesh. 

Menteri Dalam Negeri Malaysia, Ahmad Zahid Hamidi menyatakan temuan ini masih didalami oleh pihak berwenang untuk menentukan apakah jenazah yang dikubur dalam kuburan massal itu merupakan korban perdagangan manusia.

Malaysia bagian utara dikenal sebagai salah satu rute penyelundupan "manusia perahu", yang sebagian besar adalah etnis Rohingya dan Bangladesh, menuju Asia Tenggara. 

Rute penyelundupan lain diduga melalui Thailand selatan. Sumber dari kepolisian Malaysia meyakini bahwa temuan ini berkaitan dengan kuburan massal lain yang ditemukan di perbatasan Thailand bulan ini.

Setidaknya terdapat 30 kuburan yang diyakini berisi jenazah imigran dari Myanmar dan Bangladesh di Provinsi Songkhla. (CNN/CNA) 

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.