Gelombang panas merenggut lebih dari 200 nyawa di Andhra Pradesh, India bagian Selatan.  Foto: Antar

Gelombang panas merenggut lebih dari 200 nyawa di Andhra Pradesh, India bagian Selatan. Foto: Antara

KBR- Setidaknya 500 orang dilaporkan meninggal dunia akibat gelombang panas yang menghantam India dengan temperatur yang mencapai 48 derajat celcius di beberapa negara bagian.

Tercatat suhu di Uttar Pradesh mencapai 48 derajat celcius sementara suhu di Ibu Kota Delhi terus meningkat di atas 44 derajat celcius. Daerah terparah yang terdampak gelombang panas adalah Andhra Pradesh dimana 246 orang meninggal akibat suhu tinggi dalam kurun waktu seminggu terakhir ini.

Pejabat negara menyebutkan 62 orang meninggal karena sengatan matahari pada Hari Minggu (24/5/2015). Pihak berwenang telah mengeluarkan desakan kepada masyarakat untuk tetap berada di dalam rumah serta minum banyak cairan selama gelombang panas melanda. Kondisi gelombang panas ini telah berlangsung sejak pertengahan April namun kematian terbanyak terjadi dalam seminggu terakhir.

"Sebagian besar korban adalah masyarakat yang terkena paparan sinar matahari secara langsung, biasanya berusia 50 tahun ke atas dan dari kelas pekerja," kata P Tulsi Rani, komisaris khusus departemen manajemen bencana Andhra Pradesh seperti yang dikutip kantor berita AFP, Selasa (26/5/2015).

Rani menambahkan, pihaknya meminta masyarakat untuk mengambil tindakan pencegahan seperti menggunakan payung, topi, dan mengkonsumsi sejumlah besar cairan seperti air atau susu, serta mengenakan pakaian kain. Sementara itu The Press Trust of India di baratlaut daerah Rajasthan juga mencatat sejumlah kematian akibat gelombang panas, termasuk seorang perempuan yang tumbang dan meninggal di pinggir jalan di Kota Bundi.

Departemen meteorologi mengatakan kondisi terik ini kemungkinan besar akan terus berlanjut selama beberapa hari. Pejabat meteorologi mengatakan bahwa gelombang panas itu terjadi karena minimnya hujan.

Ahmed Pasha, warga yang bekerja menggarap 12 hektar tanah mengatakan bahwa tidak ada lagi air di sumur ataupun di aliran air. "Semua air telah hilang dan mengakibatkan lebih dari 50 persen rumput menjadi kering," ungkap Ahmed. (BBC)

Editor: Malika
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!