Kabut asap di Malaysia. (Sumber: Flickr)

KBR, Jakarta - Kabut asap tebal menyelimuti Kuala Lumpur dan Selangor Malaysia, pada Jumat ini. Namun gangguan asap ini bukan disebabkan kebakaran dari Indonesia, melainkan dari semenanjung Malaysia sendiri.

Kabut asap juga terjadi di kawasan padat penduduk di Lembah Klang di sekitar Kuala Lumpur. Kabut juga terjadi di Miri, di negara bagian Sarawak. Indeks Pencemaran Udara (IPU) mencapai 105 dan 146.

Perdana Menteri Malaysia Najib Razak meminta warga menghindari keluar rumah dan sering menggunakan masker.

"Saya perhatikan kabut asap kembali terjadi di sejumlah tempat. Saya harap semua warga berhati-hati, khususnya yang bekerja atau harus berada di luar ruangan. Gunakan masker atau sejenisnya," kata Najib Razak melalui akun Twitternya @NajibRazak.

"Khususnya orang tua dan anak-anak, kurangi aktivitas fisik di luar ruangan, terutama yang tinggal di daerah dengan kabut asap tebal," lanjut Najib.

Kabut asap itu terjadi setelah beberapa hari wilayah Malaysia dilanda fenomena gelombang panas dengan suhu udara mencapai 37 derajat Celcius.

Menteri Sumber Daya Alam dan Lingkungan Malaysia Wan Junaidi Tuanku Jaafar mengatakan kabut asap terjadi karena kebakaran di lahan gambut di Kuala Langat dan Sepang.

Kondisi cuaca panas yang berlangsung selama lebih dari tiga hari itu membuat sekolah-sekolah diliburkan terutama di negara bagian Perlis dan sebagian negara bagian Pahang.

Selain menyebabkan kabut asap, cuaca panas juga menyebabkan pasokan air terganggu. Ketinggian air di waduk-waduk berkurang. Negara bagian Johon bahkan harus mendistribusikan air ke warga untuk memenuhi kebutuhan air yang terganggu.

Menteri Sumber Daya Alam dan Lingkungan Malaysia Wan Junaidi Tuanku Jaafar mengatakan keputusan mendistribusikan air bersih ke warga diserahkan kepada masing-masing pemerintah negara bagian.

Saat ini pemerintah Malaysia mulai mengirim pompa air dan tandon air ke negara-negara bagian seperti Kedah dan Perlis yang merupakan daerah pertanian.

Cuaca panas di Malaysia diduga akibat fenomena El Nino.

Di Kuala Lumpur, cuaca panas memaksa warga terus menyalakan penyejuk udara (AC) hingga meningkatkan konsumsi listrik di negara itu. (CNA/Asian Correspondent/The Malay Mail Online)

Editor:  Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!