Calon Presiden Filipina Rodrigo Duterte (Sumber: FB Rody)

KBR- Jika agenda pemilihan Presiden Amerika Serikat memiliki sosok kontroversial Donald Trump, Filipina memiliki Rodrigo Duterte. Salah seorang kandidat calon presiden Filipina Rodrigo Duterte menyatakan  siap memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat dan Australia jika terpilih menjadi presiden. Meskipun Amerika dan Australia selama ini merupakan kawan terdekat Filipina.

"Jika saya menjadi presiden, saya akan tampil ke depan dan putuskan hubungan diplomatik," kata Duterte.

Pernyataan itu dikeluarkan Duterte, terkait kritik yang ia terima dari pemerintah dua negara itu.

Sebelumnya, bekas walikota Davao ini dihujani kritik atas pernyataannya yang kontroversial mengenai kasus perkosaan dan pembunuhan terhadap Jacqueline Hamill, seorang misionaris asal Australia dalam kerusuhan penjara pada 1989 di Filipina. Jacqueline merupakan satu dari 15 sandera dalam peristiwa itu.

Dalam kampanyenya, Duterte mengatakan seorang walikota mestinya menjadi orang pertama yang memperkosa misionaris itu.

"Saya marah, perempuan itu diperkosa. Tapi dia begitu cantik. Saya pikir, mestinya walikota menjadi yang pertama (yang memperkosa)," kata katanya waktu itu.

Rodrigo Duterte merupakan seorang kandidat calon presiden yang kerap melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial.

Tim sukses Rodrigo telah menyebarkan keterangan, bahwa ia sudah meminta maaf atas pernyataan terkait kasus pemerkosaan misionaris asal Australia itu. Namun dalam kampanyenya di depan publik, ia berkali-kali menyatakan tidak akan meminta maaf.

Dalam kampanyenya, ia juga mengumbar janji akan membunuhi puluhan ribu  penjahat dan pelaku kriminal. Saat menjadi Walikota Davao, ia pernah dituduh menggerakkan kelompok pembunuh bayaran yang, menurut Amnesty International, menewaskan lebih dari 1700 orang.

Duta Besar Australia untuk Filipina, Amanda Gorely mengkritik pernyataan Rodrigo Duterte. Amanda mengatakan kasus perkosaan dan pembunuhan tidak boleh dijadikan bahan candaan. Amanda menyatakan kasus kekerasan, apalagi terhadap perempuan merupakan tindakan yang tidak diterima kapan pun dan dimanapun.

Hal senada juga disampaikan Duta Besar Amerika Serikat untuk Filipina, Philip Goldberg.

"Pernyataan seperti itu, oleh siapapun dan dimanapun yang merendahkan perempuan dan meremehkan kasus serius seperti perkosaan dan pembunuhan bukan hal yang bisa kami maafkan," kata Goldberg.

Kritik juga disampaikan Presiden Benigno Aquino.

"Untuk apa kita melakukan hal itu? Amerika itu mitra dagang yang sangat besar, Australia banyak membantu kita. Jadi apa manfaatnya bagi kita (memutuskan hubungan dagang). Kalau tidak ada manfaatnya, mengapa melakukan hal itu?" Kata Benigno.

Selama menjabat presiden, Aquino mempererat hubungan dengan Amerika Serikat dan Australia. Hal itu untuk menguatkan posisi tawar, terkait sengketa wilayah Laut Cina Selatan dengan negara Tiongkok.

Namun hal ini ditentang Rodgrigo Duterte. Melalui juru bicaranya, Rodrigo menyatakan jika terpilih maka siap berbicara langsung dengan Tiongkok untuk menyelesaikan sengketa Laut Cina Selatan. (AFP/Inquirer/Rappler/Philippine Star)

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!