Nyamuk Aedes aegypti pembawa virus Zika. (Foto: Marcos Teixeira de Freites/Commons Creative)

KBR - Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat mengklaim telah memiliki cukup bukti untuk memastikan bahwa virus Zika bisa menyebabkan gangguan kepala dan otak bayi baru lahir.

Keputusan otoritas kesehatan AS itu sebelumnya sempat diwarnai perdebatan panjang mengenai hubungan langsung antara infeksi virus Zika dengan kecacatan bayi yang disebut mikrosefalus maupun gangguan syarat otak lainnya.

"Tidak ada lagi keraguan bahwa virus Zika bisa menyebabkan mikrosefalus," kata Thomas Frieden, Direktur CDC.

Thomas Frieden mengatakan kesimpulan itu diambil setelah diadakan evaluasi terhadap bukti-bukti dari berbagai kajian yang ada.

"Belum pernah ada kejadian sepanjang sejarah, dimana gigitan nyamuk bisa menghasilkan kecacatan yang menghancurkan seperti itu," kata Thomas Frieden.

Ia berharap pengumuman keputusan CDC itu bisa meningkatkan kewaspadaan dan kepedulian berbagai pihak mengenai potensi ancaman kesehatan bagi warga yang bepergian ke daerah-daerah terpapar virus Zika di Amerika Latin, maupun warga yang tinggal di Puerto Rico, Amerika Samoa maupun negara-negara bagian di kawasan selatan Amerika.

Pengumuman CDC itu keluar berselang dua pekan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan ada konsensus ilmiah yang kuat bahwa virus Zika menyebabkan gangguan mikrosefalus dan gangguan-gangguan syaraf lainnya.

WHO juga menyebutkan virus Zika menyebabkan sindrom Guillain-Barre. Sindrom ini berupa gangguan kelemahan otot yang disebabkan rusaknya sistem sekitar syaraf.

Namun, CDC belum bisa memastikan apakah virus Zika jua bisa menyebabkan gangguan syaraf pada orang dewasa. Termasuk, apakah virus Zika menyebabkan sindrom Guillain-Barre yang jumlah kasusnya meningkat di sejumlah daerah yang terkena wabah Zika.

Pengumuman CDC ini juga meningkatkan tekanan terhadap Kongres AS untuk mengalokasikan dana darurat lebih dari 1,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp23,8 triliun.

Dana itu sebelumnya diminta Presiden Amerika Barack Obama untuk mencegah penyebaran virus Zika di Amerika.

Direktur Informasi Kesehatan Publik CDC Sonja A Rasmussen menyebutkan berdasarkan survei banyak orang tidak begitu peduli terhadap infeksi virus Zika di Amerika Serikat, dan mereka tidak banyak mengetahui banyak informasi mengenai virus itu.

Tim analis dari CDC yang dipimpin Sonja Rasmussen telah mempublikasikan hasil kajian mereka di jurnal The New England Journal of Medicine pekan ini.

Sekitar 700 orang di Amerika telah terinveksi virus Zika, hingga pekan lalu. Jumlah itu termasuk 69 orang ibu hamil.

Setengah dari kasus itu tinggal di Puerto Rico, teritori pulau yang masuk bagian negara Amerika Serikat. Di Puerto Rico, virus Zika menyebar secara lokal.

Para ahli mengkhawatirkan virus Zika menular lebih cepat pada musim panas ini melalui gigitan nyamuk. Khuusnya di daerah-daerah urban di Florida dan Texas, dimana nyamuk cepat berkembang biak. (NY Times/CNN)

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!