Serangan Bunuh Diri di Taman Umum Pakistan, Puluhan Tewas

Sebagian korban tengah merayakan Paskah di taman tersebut.

Senin, 28 Mar 2016 09:20 WIB

Serangan bom di sebuah taman di Lahore, Pakistan (Minggu, 27/3/2015) (Foto: BBC)

Serangan bom di sebuah taman di Lahore, Pakistan (Minggu, 27/3/2015) (Foto: BBC)

KBR Serangan bom bunuh diri di taman umum yang ramai di Lahore, Pakistan Timur, pada Minggu (27/3/2016) malam menewaskan lebih dari 65 orang dan melukai sedikitnya 300 orang lainnya.

Penasehat kesehatan pemerintah Provinsi Punjab Salman Rafiq menyatakan, di antara korban terdapat perempuan dan anak-anak. Di antara korban yang dibawa ke rumah sakit setempat, ada orang-orang yang luka berat. Saksi mata melaporkan, sejumlah  besar keluarga Kristen tengah merayakan Paskah di taman ketika ledakan bom itu terjadi.

Jamaatul Aurar, faksi Taliban Pakistan yang memisahkan diri, mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Menurut mereka, serangan itu secara khusus ditujukan kepada orang Kristen.

Amerika mengutuk serangan tersebut dan menyebutnya sebagai ‘tindakan pengecut’, seperti disampaikan juru bicara Dewan Keamanan Nasional Ned Price.

Editor: Citra Dyah Prastuti  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Permintaan PAN Mundur Dari Kabinet Bisa Jadi Masukan Presiden

  • Dua Eksekutor Penembak Gajah di Aceh Tengah Ditangkap
  • Diduga terkait Terorisme, Kuwait Usir Duta Besar Iran
  • Marcos Rojo Terancam Absen sampai 2018

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.