Anjing Kenali Emosi Manusia Lewat Wajah

Sabtu, 12 Mar 2016 08:15 WIB

Ilustrasi (Foto: Antara)

KBR- Dua penelitian berbeda membuktikan bahwa anjing mampu mengenali emosi manusia dengan melihat wajah, demikian ditulis VOA. Peneliti University of Mexico melatih tujuh anjing peliharaan di rumah agar diam ketika menjalani pemindai MRI. Pemindai itu memproduksi gambar-gambar rinci dalam tubuh. 

Kepada masing-masing anjing ditunjukkan 50 foto orang berbeda dan 50 gambar benda mati dan melihat reaksi otak anjing tersebut. Aktivitas otak sangat meningkat ketika anjing melihat wajah manusia. Ini menunjukkan, menurut penelitian, anjing mengenali emosi manusia melalui raut wajah. 

Proyek lain, oleh peneliti perilaku dan psikolog hewan di Brazil dan Inggris, juga menunjukkan anjing mengenali emosi orang dengan melihat wajah. Kepada 17 anjing peliharaan ditunjukkan sepasang foto orang yang tampak bahagia atau sedih, bersama rekaman suara orang, yang berbicara dengan ceria atau marah. Peneliti mendapati anjing menghabiskan lebih banyak waktu melihat ekspresi wajah yang cocok dengan nada suara. (voa)  

Editor: Dimas Rizky 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Indonesia masih menghadapi masalah jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi. Pertambahan jumlah penduduk tidak seimbang dengan pertumbuhan kesempatan kerja.