Korban Tewas Bertambah, Flu Burung Kembali Guncang Dunia

Kasus penularan virus flu burung pada manusia kembali terjadi di Tiongkok, sementara Inggris, Prancis hingga Australia juga waspada tinggi atas penularan virus tersebut di unggas.

Jumat, 06 Jan 2017 12:19 WIB

Petugas kesehatan menyemprotkan obat antikuman pada kendaraan angkutan untuk mencegah penyebaran flu burung di Pohang, Korea Selatan, Senin (19/12). (Foto: ANTARA/Reuters)

KBR - Sejumlah negara kembali meningkatkan kewaspadaan dan tindakan dalam menangani wabah virus flu burung.

Kasus penularan virus flu burung pada manusia kembali terjadi di Tiongkok, sementara Inggris, Prancis hingga Australia juga waspada tinggi atas penularan virus tersebut di unggas.

Di Hong Kong, seorang pria berumur 62 tahun meninggal pada hari Jumat (6/1/2017). Reuters memberitakan pihak rumah sakit mengkonfirmasi pria itu tewas karena serangan virus flu burung H7N9. Ini merupakan korban virus flu burung kedua di wilayah administratif Hong Kong sepanjang tahun baru ini. Pasien virus H7N9 sebelumnya meninggal pada lima hari lalu.

Pemerintah Hong Kong sudah memastikan dalam tiga pekan ini ada tiga orang positif tertular virus H7N9.

Sementara di Tiongkok virus flu burung sudah menginfeksi sedikitnya 19 orang sejak musim dingin kali ini, dan empat orang diantaranya meninggal. Salah satu provinsi yang paling banyak penularan virus flu burung adalah Provinsi Shandong. Terakhir kali wabah flu burung melanda Tiongkok pada 2013 dan menewaskan 36 orang dan menimbulkan kerugian hingga Rp80 triliun di sektor pertanian dan peternakan.

Kondisi ini meningkatkan ketakutan penyebaran virus flu burung ke manusia di kawasan Korea Selatan, Jepang dan Tiongkok.

Di Korea Selatan lebih dari 10 juta unggas telah dimusnahkan pada musim dingin kali ini. Wabah flu burung di Korea Selatan kali ini diperkirakan sebagai yang paling parah sejak 2014. Begitu juga di Jepang, ada sekitar 1 juta unggas dimusnahkan untuk mencegah penularan virus flu burung.

Selain di kawasan Asia, negara-negara di Eropa juga sedang waspada tinggi penyebaran virus flu burung. Sejak Oktober lalu, virus flu burung varian berbeda yaitu H5N8 sudah terdeteksi di sedikitnya 13 negara di Eropa, termasuk Prancis, Inggris, Jerman, Belanda, Denmark, Irlandia, Polandia, Hungaria, Swedia dan lain-lain.

Penularan virus H5N8 pertama kali dilaporkan terjadi di Republik Cech dan Slovenia pada pekan ini. Virus H5N8 sangat mematikan bagi unggas, namun sejauh ini belum ditemukan penularan pada manusia dan tidak bisa menular lewat makanan.

Di Prancis, ratusan ribu unggas bebek dimusnahkan pekan ini, terutama di kawasan peternakan di bagian selatan negara itu. Hal ini memukul peternak hingga industri makanan di negara itu, terutama industri 'foie gras', makanan mewah yang dibuat dari hati bebek atau angsa.

Prancis merupakan negara pemasok unggas terbesar di Eropa. Namun negara ini melaporkan ada 89 kasus penyebaran virus flu burung varian H5N8 pada unggas.

Pekan ini pemerintah Prancis menyerukan pemusnahan besar-besaran terhadap unggas, termasuk bebek di tiga daerah yang paling parah terpapar virus flu burung seperti Gers, Landes dan Hautes-Pyrenees. Pemusnahan unggas dilakukan sejak 5 Januari hingga 20 Januari mendatang.  (Reuters/Euronews/Times/

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi