Kelompok Demonstran Ingin Bikin 'Chaos' Pelantikan Trump

Reuters memberitakan akan ada 900 ribu orang bakal membanjiri Washington saat pelantikan Trump.

Jumat, 20 Jan 2017 11:24 WIB

Warga Amerika Serikat berdemonstrasi menolak presiden terpilih Donald Trump, di Texas, Senin (19/12/2016). (Foto: ANTARA/Reuters)

KBR - Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump pagi ini dilantik sebagai presiden AS ke-45. Menjelang dan di tengah acara pelantikan itu, ribuan orang memadati Kota New York berdemonstrasi menentang Donald Trump.

Sementara itu, di Washingto DC, salah satu kelompok berencana membanjiri kota itu untuk menutup segala akses menuju lokasi pelantikan Donald Trump, dan membuat chaos.

Di New York, aksi demonstrasi diikuti sejumlah selebritas atau pesohor Hollywood, mulai dari aktor Robert de Niro, Alec Baldwin, hingga sutradara peraih Oscar Michael Moore serta penyanyi Cher. Mereka ikut berkumpul di riuhnya demonstran yang berkumpul dekat Trump International Hotel di Central Park South, New York.

Para demonstran menyerukan untuk terus melawan Donald Trump demi memperjuangkan hak-hak sipil dan keadilan bagi semua. Aksi itu dipusatkan di New York, daerah kelahiran Trump, dimana mayoritas justru mendukung pesaingnya dari Partai Demokrat Hillary Clinton pada pemilu presiden 2016 lalu.

Alex Baldwin merupakan salah satu aktor penentang Trump. Pada masa debat calon presiden tahun lalu, Baldwin memerankan Trump dalam pertunjukan komedi satir di acara televisi "Saturday Night Live".

Sementara itu sutradara Michael Moore menyebut Donald Trump tidak memiliki mandat kuat untuk berkuasa. Moore menyebut meski Donald Trump memenangkan jumlah delegasi sebagai syarat kemenangan pemilu, namun Hillary Clinton justru memenangkan akumulasi jumlah suara pemilih (popular vote) di 50 negara bagian di Amerika Serikat.

"Kita adalah mayoritas. Jangan menyerah. Saya tidak mau menyerah," teriak Moore dalam demonstrasi pagi ini.

Wali Kota New York, Bill de Blasio, yang merupakan politisi dari Partai Demokrat menyerukan seruan politik progresif dan mendesak warga Amerika Serikat untuk bangkit agar suara penolakan mereka didengar oleh pemerintah baru yang akan berkuasa.

"Donald Trump selalu mengatakan dia membangun gerakan baru. Sekarang ini waktunya bagi kita untuk membangun gerakan dan itu dimulai sekarang, dan untuk seluruh negeri. Malam ini, besok dan hari-hari berikutnya," kata Bill de Blasio.

Para demonstran juga menyoroti pemerintahan Trump yang didominasi warga kulit putih, kaya dan pria. Seorang peserta demonstrasi menyebut aksi mereka diikuti berbagai kalangan, mulai dari pejuang hak-hak LGBT, hak-hak perempuan hingga pejuang hak-hak warga Muslim.

"Kami ada di sini karena kami merasa kami akan kehilangan semua yang sudah kita peroleh dalam kurun waktu 50 tahun terakhir---ya hak sipil, kebebasan berbicara, jaminan kesehatan, hak-hak kaum perempuan, perdamaian dunia, dan sebut saja lainnya," kata Carol Bay, warga yang ikut demonstrasi.

Bikin chaos

Aksi juga digelar di Washington DC. Massa yang diperkirakan mencapi puluhan ribu orang memadati jalanan di ibukota Amerika Serikat itu, baik dari kubu pendukung maupun penentang Donald Trump. Ada 22 izin demonstrasi yang dikeluarkan oleh National Park Service untuk demonstrasi, termasuk di dekat kawasan National Mall dan Gedung Putih.

Reuters bahkan memberitakan akan ada 900 ribu orang bakal membanjiri Washington saat pelantikan Trump.

Izin hanya dikeluarkan bagi massa yang berjumlah antara 50 orang hingga 200 orang. Sedangkan, kelompok demonstran yang berjumlah kurang dari 25 orang tidak membutuhkan izin.

Aksi demonstrasi terbesar diperkirakan akan digelar sehari setelah Trump dilantik. Kelompok Women's March on Washington diperkirakan akan mengerahkan ratusan ribu orang pada 21 Januari besok.

Bahkan aksi unjuk rasa saja dianggap tidak cukup. Sebuah kelompok bernama DisruptJ20 berencana mengganggu proses pelantikan Donald Trump. DisruptJ20 dibuat sejak enam bulan lalu sebagai persiapan menghadapi pelantikan presiden.

"Idenya adalah untuk menutup sebanyak mungkin akses ke parade dan memperlambat kegiatan itu. Lalu membuat kota ini menjadi tertutup hingga lumpuh. Ini bisa membuat judul koran 'Pelantikan Trump Menimbulkan Chaos'," kata Legba Carrefour, pengurus DisruptJ20.

Kepolisian Washington DC menyebut mereka mengerahkan lima ribu personel untuk mengantisipasi potensi gangguan pada saat pelantikan. Polisi akan menggunakan taktik memecah kelompok demonstran agar tidak mengumpul dan berpotensi mengganggu proses kenegaraan. Selain polisi, kelompok pendukung Trump juga menyatakan akan ikut mengawal proses pelantikan. (AFP/Washington Post/NBC) 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Moratorium Reklamasi, Menteri Siti : Pulau C dan D Kurang Satu Syarat, Pulau G Dua Syarat

  • Adik Bos First Travel Ikut Jadi Tersangka
  • Penembakan Deiyai, Tujuh Anggota Brimob dan Kapolsek Akan Jalani Sidang Etik Pekan Depan
  • Tuntut Pembatalan Perppu Ormas, Ratusan Orang Demo DPRD Sumut

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR