INTERMEZO: Rusia Tolak 'Diplomasi Anak Anjing' dari Jepang

Hadiah anak anjing itu sedianya diberikan menjelang pertemuan Putin dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada pekan depan.

Senin, 12 Des 2016 15:13 WIB

Presiden Rusia Vladimir Putin bersama anjing kesayanganya jenis Labrador, bernama Koni. (Foto: Wikimedia/Istana Kremlin/Creative Commons)

KBR - Upaya pemerintah Jepang melakukan pendekatan diplomasi dengan mengirim hadiah anak anjing kepada Presiden Rusia Vladimir Putin tidak berbuah manis.

Rusia menolak kiriman hadiah anak anjing menggemaskan dari pemerintah Jepang, yang diberi nama Akita. Semula Jepang berharap anak anjing jantan itu bisa menjadi teman bermain bagi Yume, anak anjing betina dengan usia sama yang sudah lebih dulu diberikan Jepang kepada Presiden Putin pada empat tahun lalu.

Yumi diberikan pemerintah Jepang kepada Putin sebagai tanda terima kasih atas bantuan negara itu dalam membantu Jepang pasca bencana gempa dan tsunami 2012.

Namun, pemerintah Rusia menolak hadiah itu tanpa ada alasan jelas.

"Sayangnya, kami mendengar dari mitra kami itu, dan harapan kami agar pasangan anak anjing itu bisa bersama, pupus sudah," kata anggota DPR Jepang Koichi Hagiuda lewat postingan di blognya.

Hadiah anak anjing itu sedianya diberikan menjelang pertemuan Putin dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada pekan depan.

Vladimir Putin merupakan sosok kepala negara yang dikenal sebagai seorang penyuka binatang, terutama anjing. Putin sebelumnya juga mendapat hadiah anjing jantan bernama Buffy, dari Perdana Menteri Bulgaria pada 2010 lalu.

Pertemuan itu untuk membicarakan isu keamanan dan latihan penyelamatan angkatan laut yang sempat terhenti, setelah Rusia menganeksasi Semenanjung Krimea di Ukraina pada 2014 lalu.

Sengketa Rusia-Jepang

Langkah Rusia itu menyebabkan hubungan dengan sejumlah negara memburuk. Negara-negara termasuk Uni Eropa, Amerika Serikat dan Jepang pun memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Rusia.

Jepang dan Rusia juga belum menandatangani perjanjian damai untuk memformalkan berakhirnya Perang Dunia II, terkait dengan masalah sengketa teritorial empat pulau kecil di Pasifik.

Wilayah ini dikenal sebagai Kepulauan Kuril Selatan menurut versi Rusia, atau dengan nama Teritori Utara menurut versi Jepang. Empat pulau yang disengketakan adalah Pulau Iturup (atau Pulau Etorofu menurut Jepang), Pulau Kunashir (Pulau Kunashiri), Pulau Shikotan, dan Pulau karang Habomai.

Sengketa Kepulauan Kuril ini bermula ketika Rusia menganeksasi wilayah itu beberapa hari pasca berakhirnya Perang Dunia II dimana saat itu Jepang dikalahkan negara sekutu.

Namun wilayah ini juga diklaim Jepang sebagai wilayah teritori utara (Hoppo Ryodo) dan masuk dalam Perfektur Hokkaido. Pada Perjanjian Damai San Francisco 1951, Jepang diharuskan melepas klaim mereka atas sengketa Kepulauan Kuril, namun perjanjian itu juga tidak mengakui aneksasi Rusia.

Namun Jepang menyatakan sebagian wilayah yang dipersengketakan itu tidak masuk ke dalam Kepulauan Kuril sehingga tidak masuk dalam obyek Perjanjian San Francisco. (UPI/Telegraph/IB Times) 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Ikhtiar Membentengi Anak-anak Muda Dari Radikalisme

  • Kepala Korps Brimob soal Penganiayaan Anggota Brimob Terhadap Wartawan LKBN Antara
  • Wakil Ketua KPK Laode M Syarief Soal Sikap KPK Terhadap Pansus Angket KPK Di DPR
  • Mendikbud Muhajir Effendy Soal Penerapan Sekolah Lima Hari Sepekan
  • Jadi Kepala UKP Pembinaan Pancasila, Yudi Latif Jelaskan Perbedaan dengan BP7
  • Siti Nurbaya: Lestarikan Lingkungan Perlu Kejujuran

Kepolisian Siapkan 4 Ribu Personel Amankan Kunjungan Obama di Jakarta dan Bogor

  • Peningkatan Kendaraan Arus Balik Lebaran Terjadi di Tol Cileunyi
  • Penghapusan Sistem Kuota, Importir: Lihat Dulu Apa Komoditasnya
  • Militer Filipina Temukan 17 Jenazah yang Dimutilasi di Marawi

Mudik seakan menjadi rutinitas tahunan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bagaimana kesiapan fasilitas sarana dan prasarana mudik tahun ini? Apakah sudah siap pakai untuk perjalanan pemudik?