dr. Hadi Sjarbaini Sp.OG, saat berbincang bersama KBR pada program Klinik KBR, Selasa (29/12/2015).

Menstruasi adalah hal yang wajar dialami oleh setiap wanita. Namun, siklus menstruasi, beda-beda lho tiap orang. Ada yang teratur sebulan sekali, ada yang dua kali dalam sebulan, malah ada pula yang setahun hanya beberapa kali saja mengalami haid. Nah, jika durasi haidnya pendek, misalnya cuma 3 hari, atau pendarahan haidnya sedikit, apakah mempengaruhi kesuburan?

Menurut dr. Hadi Sjarbaini Sp.OG, banyaknya pendarahan haid, dan lama atau tidaknya durasi waktu haid, itu bersifat individual. Tak bisa dijadikan patokan bisa hamil atau tidak.

“Tiap durasi pendarahan haid, masing-masing perempuan berbeda, yang penting masa suburnya ada, supaya  saluran telurnya  matang  agar  bisa  terjadi kehamilan” ujarnya saat berbincang bersama KBR pada program Klinik KBR, Selasa (29/12/2015).


Ia menambahkan, faktor susah hamil, belum tentu karena siklus haid yang tak teratur atau pendarahan haid yang tak lancar, tapi banyak sebab. Misalnya, karena faktor pematangan sel telur yang tak berlangsung sempurna, saluran telur tersumbat, kualitas sperma suami yang  tidak baik atau kesehatan fisik yang kurang prima.  


Banyaknya pendarahan haid yang dikeluarkan, secara teoritis normalnya mencapai  80 cc, atau sekitar setengah gelas belimbing. Sedangkan, normalnya siklus haid 21-35 hari. Untuk pendarahan haid normalnya 7-10 hari, atau paling lama 2 minggu. Jika lebih atau kurang dari durasi tersebut, menurut Hadi, segera diperiksa ke dokter.


“Jika dalam sehari 3 kali mengganti pembalut dengan kondisi yang tak terlalu basah, itu masih normal. Tapi, jika mengganti pembalut hingga 10 kali dalam keadaan basah (deras), itu mungkin ada sesuatu yang menyebabkan darah keluar begitu banyak,” jelasnya.


Ia menambahkan, jika warna darah haid terlihat hitam, itu karena darah lama tersimpan di vagina, karena  seseorang terlalu lama dalam posisi tiduran atau duduk, jadi darah tersebut teroksidasi atau terkena udara.  Begitupun jika darah haid bergumpal, itu masih normal.


Obesitas, Apakah Pengaruhi Kesuburan..?

Dalam obrolan yang berlangsung pada pukul 09.06 hingga 10.00 WIB itu, ada pendengar KBR dari Jakarta, yang bertanya melalui telephone bebas pulsa KBR. (0800-140-3131)

“Saya Wika, 24 tahun dan punya badan obesitas, berat 80 kg tinggi 150 cm. Saya hanya mengalami haid 3 sampai 4 bulan sekali. Mengapa bisa demikian?”

Hadi menjawab, jika wanita yang sudah menikah, namun hanya mengalami  haid beberapa kali saja dalam setahun, ada kemungkinan menderita  PCO (policistic ovarium) atau memiliki sel telur yang kecil-kecil. Meski pun jumlahnya banyak, tapi jika telurnya kecil, akan susah matangnya atau memerlukan waktu yang lama. Jadi haidnya  bisa 3-4 bulan sekali, atau bahkan setahun hanya 1-2 saja. Jika ini terjadi, wanita tersebut akan sulit untuk hamil.  

Sementara itu, jika wanita yang obesitas mengalami siklus haid yang tidak teratur, bisa disebabkan adanya gangguan hormon atau ada hormon tertentu yang berlebihan.  

“Jika obesitas, sel lemak di dalam tubuh mengganggu keseimbangan hormonal. Akan mengubah hormon estrogen menjadi hormon endorgen, atau menjadi hormon lain yang bisa mengacaukan siklus menstruasi. Jika obesitas tapi tak ada PCO, dianjurkan menurunkan berat badan agar hormon kembali normal. Tapi jika terjadi PCO, selain harus menurunkan berat badan, ada obat-obatan tertentu yang bisa membantu agar siklus haidnya kembali normal,” urainya.


Mengapa wanita yang akan mengalami haid suka sensitif atau mudah emosi ?


Menurut Hadi, sebelum haid, banyak zat-zat selain hormon yang keluar, seperti zat oksidan zat peradangan. Zat ini  mempengaruhi sistem yang lain, seperti sistem  pencernaan yang mengakibatkan mual. Sedangkan  jika mempengaruhi sistem syaraf, bisa mengakibatkan sakit kepala. Hal inilah yang  mengakibatkan emosi seseorang berubah menjelang haid. Selain itu, zat zat tadi juga menyebabkan nyeri haid. Jika terasa nyeri sekali, dan saat haid tak bisa melakukan apapun, Hadi menyarankan, agar diperiksa ke dokter.  


“Kalau stres atau aktifitas fisik yang berat mempengaruhi siklus menstruasi hingga terlambat sampai 35 hari, misalnya, itu bersifat individual, tak semua orang mengalami. Tapi kalau sampai 3 bulan tak juga mendapat menstruasi karena merasa stres, ya gak bisa juga, harus diperiksa dan dicari tau sebenarnya, agar siklus mens berjalan normal,” ujarnya.

Adakah Pantangan Saat Haid?

Menurut dokter yang berpraktek di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta,  tak ada yang perlu dipantang saat haid, karena ini adalah hal rutin yang terjadi setiap bulan pada wanita yang sudah memasuki akil baliq.

“Tidak ada makanan yang dipantang selama haid. Tapi saat haid, ada beberapa zat yang keluar yang bisa mempengaruhi saluran cerna, jadi tingkat asam lambung bisa meninggi. Nah, bagi beberapa perempuan, karena hal ini, baiknya hindari makanan pedas atau asam yang merangsang pencernaan.”

Ia menambahkan, jika ingin melakukan aktifitas fisik seperti olahraga, tak masalah. Bahkan, yang mau pijitan pun, silahkan saja. Jika ada yang mengatakan kulit jadi lembut saat wanita mengalami haid, itu hanya mitos.

Apakah Semakin Dini Mengalami Haid, Semakin Cepat Menopause?

“Tak bisa diasumsikan kalau terlalu dini mengalami haid, semisal umur 10 tahun sudah haid, maka cepat pula menopause. Perempuan tidak membuat telur baru, tapi ketika dia lahir, sudah dikasih jatah oleh Tuhan, berapa telur yang ia punya, ada yang banyak atau tidak. Jika cadangan telurnya sedikit, maka ia  akan cepat mengalami menopause," katanya.


“Kalau seseorang lebih cepat mengalami haid, tapi cadangan telurnya bisa sampai 7 turunan, ia bisa menopause di usia 60 tahunan. Jadi umur reproduksi tak sama dengan usia fisik sebenarnya. Bisa saja, sesorang yang baru berusia 29 tahun,  tapi jika cadangan telurnya sudah tinggal sedikit, ia akan lebih cepat mengalami menopause,” tambahnya.

Hormon Menstruasi

Hormon merupakan suatu zat yang dihasilkan oleh tubuh. Ada hormon pencernaan, hormon metabolisme, hormon syaraf dan hormon reproduksi. Pada wanita, hormon reproduksi inilah yang mengatur siklus haid pada saat usianya memasuki akil baliq.

Pematangan sel telur, akan menghasilkan hormon estrogen, yang akan membuat tanda-tanda seks sekunder mulai berkembang. Seperti panggul yang membesar, payudara mulai tumbuh dan muncul bulu kemaluan. Ketika sel telur mulai berkembang dan matang, maka akan ada masa subur. Jika dibuahi setelah menikah, maka akan terjadi kehamilan.

Hormon estrogen yang diproduksi ovarium ini sangat penting, terutama pada ovulasi dalam siklus reproduksi wanita. Hormon ini juga berperan dalam pembentukan kembali lapisan rahim setelah periode menstruasi.

“Perintah  hormon itu datang dari otak. Jika tidak dibuahi, maka ia tidak hamil, maka hormon progesteron yang ada pada wanita  akan turun, dan  terjadilah  pendarahan haid,” pungkasnya.   

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!