dr . Kemal Fariz Kalista, saat berbincang bersama KBR pada program Klinik KBR, Selasa (22/12/2015).

Baru baru ini, 17 mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), dirawat intensif di Rumah Sakit karena terserang penyakit hepatitis A. Jumlah mahasiswa IPB tersebut terus bertambah dalam kurun waktu dua pekan terakhir. Bahkan,ada yang meninggal setelah sempat mendapatkan perawatan selama empat hari di rumah sakit. Salah satu mahasiswa yang terkena hepatitis menuturkan, dirinya mengeluhkan mual, pusing dan mata kuning.

Para mahasiswa yang menjalani perawatan, umumnya tinggal di asrama kampus dan kos-kosan di area kampus. Wah, jangan-jangan gaya hidup dan makanan anak kos yang tidak sehat, nih.

Melihat dari gejala yang dialami oleh mahasiswa IPB tadi, Dokter Kemal Fariz Kalista, SpPD (Spesialis Penyakit Dalam), membenarkan bahwa hal tersebut merupakan penyakit hepatitis A.

“Hepatitis A itu tak memandang usia dan jenis kelamin, kalau kebersihan lingkungan tidak terjaga dengan baik, kemungkinan besar akan terinfeksi virus hepatitis A,” tegasnya.

“Hepatitis A, penularannya melalui oral atau mulut akibat sanitasi atau lingkungan yang kurang baik. Misalkan, pembuangan tinja yang kurang baik, lantas tinja tersebut dikerubungi lalat dan membawa virus ke dalam makanan yang dikerubuninya. Jika makanan tadi dikonsumsi, maka virus tersebut masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan. Kalau sistem imunnya sedang tidak baik, akan mudah terkontaminasi. Namun, jika sistem imunnya sedang baik, walaupun makan makanan yang terkontaminasi, tidak apa-apa,” ujarnya saat berbincang bersama KBR pada program Klinik KBR, Selasa (22/12/2015).

Ia menjelaskan, hepatitis adalah penyakit peradangan hati atau liver. Penyebabnya  bisa dari virus maupun dan non virus. Jika terkena virus hepatitis A dan E, biasanya disebabkan oleh non infeksi virus seperti infeksi bakteri, infeksi parasit dari konsumsi obat obatan, alkohol, otoimun, dan faktor genetik atau keturunan.

Ia menambahkan, gejala hepatitis A biasanya demam, sakit badan, sakit otot, lemes, tak mau makan, mual, muntah, mata kuning, pipis pekat seperti air teh dan warna tinja pucat. Hepatitis A, bukan  karena faktor keturunan, tapi kalau hepatitis secara general memang ada karena faktor gen.

“Gejala hepatitis A ini terlihat seperti infeksi virus biasa. Biasanya orang yang menderita gejala ini, setelah demamnya hilang, timbullah mata kuning, pipis pekat, feses pucat,  barulah tersadar apa yang terjadi pada dirinya,” tambahnya.

Meski demikian, menurut Kemal, Hepatitis A tak akan menjadi kronik atau berkepanjangan, bisa sembuh sempurna, dan tak membutuhkan terapi anti virus yang spesifik. Cukup dengan infus, cairan dan makanan yang cukup dan diberi obat untuk demam.

Sementara, jika terkena hepatitis B, C dan D, akan beda lagi ceritanya. Hepatitis ini juga  menular, hanya caranya saja yang berbeda.

“Hepatitis B, C dan D menular akibat kontak dari hubungan seksual dan produk darah.  Misalnya  jarum suntik yang tidak steril, terciprat darah bekas luka dari orang yang menderita, atau melalui transfusi darah. Tapi, penularan dari transfusi darah ini jarang terjadi karena sudah ada screening atau penyaringan yang baik dari PMI,” ujar Kemal.

Ia menambahkan, bagi ibu hamil yang menderita hepatitis B dan C, mempunyai resiko menularkan kepada anak yang ada dikandungannya. Kalau jumlah virusnya tinggi, harus diberikan obat untuk menekan virusnya agar hilang. Tapi, jika pengobatannya berhenti, biasanya muncul kembali, jadi harus dilakukan pengontrolan atau pengobatan secara rutin  Sedangkan, tindakan yang dilakukan pada bayi, 12 jam setelah lahir, harus disuntik agar tidak terjadi penularan. 


Bahayanya lagi, jika hepatitis B, C dan D tidak ditangani secara baik, hati akan  menjadi keras. Pengerasan hati mengakibatkan mengecilnya hati dan akan membentuk banyak benjolan dan ujung-ujungnya bisa menjadi gagal hati dan tak bisa berfungsi sama sekali. Kalau sudah begini, tentu saja sangat besar kemungkinan bisa menjadi kanker hati dan akan sulit  menanganinya.

“Orang yang menderita Hepatitis B, C dan D, sebagian besar tidak bermanifestasi seperti hepatitis A. Mungkin hanya  20-30 persen yang mengalami gejalanya. Penderita hepatisis jenis ini biasanya ditemui atau terdeksi pada orang yang tengah melakukan medichal chek up reguler tahunan di kantornya,“ katanya.

Bagi penderita hepatitis yang disebabkan karena faktor keturunan, menurut dokter yang berpraktek di Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo RSCM ini, mata dan kulitnya terlihat kuning dari lahir, warna air pipis pekat dan feses pucat. Bila melihat anak mengalami hal ini, segeralah periksa ke dokter untuk mengetahui apa penyebabnya.

“Untuk beberapa kasus, hepatitis bisa menyebabkan kematian. Misalnya, menimpa orang yang berumur 60 tahunan yang status imunnya lebih rendah dari orang normal. Atau, ia sudah mempunyai penyakit hati sebelumnya, ditambah pula dengan mengidap hepatitis A, maka bisa menyebabkan kematian” jelasnya.

Untuk menghindari hepatitis, Kemal menyarankan agar selalu rajin mencuci tangan sebelum memasukkan apa pun ke dalam mulut, mandi 2 kali sehari, cuci tangan setelah dari toilet, tidak sembarangan memilih makanan atau minuman dan hindari makanan berlemak.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!