Stupa Borobudur, Wangsa Syailendra

“Just when the caterpillar thought the world was over, she became a butterfly.”
? Barbara Haines Howett, Ladies of the Borobudur

Datanglah ke Borobudur pada pergantian cahaya. Nikmati bayangan stupa di antara gelap dini ketika matahari belum berpendar di ufuk timur. Silhuet yang melintas di mata -- dan keheningan yang menyebar rata pada seluruh permukaan candi, sungguh benar para ahli yang bicara: candi ini mungkin butuh waktu seratus tahun untuk membangunnya.

Tak ada kedahsyatan serupa di muka bumi yang menyamainya. Seratus tahun dibangun, lantas menjadi pusat perkembangan agama Buddha selama dua ratus tahun! Abad ke-9 (sebagian malah menyebut di antara abad ke-7 dan ke-8) ketika jangankan eskavator, listrik pun belum lagi ditemukan, bagaimana batu-batu raksasa itu diangkut ke puncak bukit?

Di antara bayang-bayang gelap pepohonan di luar kompleks pelataran candi, ketika matahari pelan-pelan mulai menyemburatkan sinar kuningnya, dan dingin mulai beranjak pergi, kita mungkin harus berterima kasih kepada ribuan pekerja dan para seniman yang saat itu dikerahkan Wangsa Syailendra untuk mengangkut bebatuan, memahat arca, tanpa bantuan teknologi modern.


Ya, kesaktian apa lagi yang harus mereka buktikan?

Foto-foto: Heru Hendratmoko

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!