Banyuwangi, Festival Gandrung Sewu

KBR, Banyuwangi - Festival Gandrung Sewu kembali digelar di Pantai Boom, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Festival yang melibatkan 1.200 penari gandrung itu bakal dihelat Sabtu (29/11). Festival ini sudah digelar untuk kali ketiga. 


Tari Gandrung adalah tari khas Banyuwangi yang telah ditetapkan sebagai "Warisan Budaya Takbenda" pada tahun lalu oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kini Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah).


Ribuan penari itu akan menari bersama di pinggir pantai dengan latar belakang Selat Bali menjelang matahari terbenam. 


"Seperti tahun-tahun sebelumnya, Festival Gandrung Sewu akan menyuguhkan pemandangan yang memukau di mana ribuan penari dengan busana dominan merah tampak menawan terkena semburat sinar sunset," kata Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Yanuarto Bramuda.  


Seblang Subuh


Tahun ini, Festival Gandrung Sewu mengangkat tema "Seblang Subuh" di mana tari tersebut dikemas lebih lengkap dengan iringan musik yang rancak dan sentuhan teatrikal. Seblang Subuh bermakna permohonan ampun kepada yang maha kuasa.


Pertunjukan kolosal ini akan diawali dengan munculnya beberapa lelaki yang membawa penjor. Mereka adalah bekas prajurit-prajurit Blambangan yang tengah berusaha mengumpulkan rekan-rekan seperjuangannya di masa lalu. Setelah terkumpul beberapa orang, mereka menasbihkan diri sebagai Gandrung Marsan (Gandrung laki-laki). Kemunculan Gandrung Marsan ini tepat pada masa pemerintahan bupati ke-5 Banyuwangi, yakni Bupati Pringgokusumo.


Pada awalnya, penari Gandrung memang dibawakan seorang laki-laki atau yang biasa disebut Gandrung Marsan. Lambat laun Gandrung berkembang dan lebih banyak dibawakan perempuan. Penari Gandrung perempuan pertama adalah Gandrung Semi.


Dalam Festival Gandrung Sewu, adegan munculnya Gandrung Semi diikuti ribuan penari gandrung berkostum merah yang menghambur dari berbagai arah dan kemudian menyatu di satu titik.


Sentuhan teatrikal akan kental saat adegan perebutan posisi sebagai gandrung, antara gandrung laki-laki dan gandrung perempuan. Fragmen ini berlangsung hingga subuh tiba. Saat subuh datang, tiba-tiba mereka yang sedang bertarung tersadar akan kesalahannya. Kedua belah pihak memohon ampun pada Yang Maha Kuasa. Mereka menyadari bahwa menjadi gandrung adalah suratan tangannya, jadi harus dijalani, dan tak perlu diperebutkan.


Uniknya, karena bermakna permohonan ampun pada yang maha kuasa, properti yang dibawa para penari gandrung ini selain kipas adalah sapu lidi. Simbolisasi bersih-bersih diri dan mohon ampun ditunjukkan dengan sapu lidi yang mereka bawa.


Promosi Wisata Banyuwangi 


Festival ini benar-benar sebagai ajang promosi pariwisata budaya Banyuwangi. Putri Pariwisata Indonesia 2014, Syarifah Fajri Mauilidiyah akan hadir dalam pagelaran kali ini. Gadis asal Pontianak ini mengaku sangat tertarik hadir di Banyuwangi untuk melihat langsung festival tari kolosal ini.


"Saya suka menari, begitu diundang untuk menyaksikan Gandrung Sewu saya langsung mengiyakan. Pastinya menarik sekali ribuan penari akan menghiasi bibir pantai di Selat Bali. Bagi saya, ini adalah cara yang jitu sekali untuk promosi wisata. Saya tidak pernah dengar ada ribuan orang menari di pinggir pantai, biasanya kan lapangan," ujar Riri, panggilan akrabnya.  


Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, Festival Gandrung Sewu dan berbagai acara promosi wisata di Banyuwangi adalah ikhtiar untuk memperpanjang siklus destinasi. Sehingga, Banyuwangi tidak hanya dikenal dengan satu atau dua destinasi saja seperti Pantai Pulau Merah, Kawah Ijen, atau Pantai Plengkung saja. 


"Dengan memperpanjang siklus destinasi, otomatis lama kunjungan wisatawan bertambah. Setelah menikmati event, misalnya, bisa ke Kawah Ijen, Pulau Tabuhan, belanja kuliner, dan sebagainya. Otomatis belanja wisatawan lebih besar. Pariwisata event juga memberi banyak opsi ke wisatawan untuk memilih jadwal agenda kunjungan ke Banyuwangi," kata Anas.


Editor: Antonius Eko 


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!