Di bagian depan tersedia loket untuk membeli karcis masuk Rp 3000 perorang. Tak sabar rasanya kami mencari tempat untuk bersantai di hamparan pasir pantai ini. Kami berjalan diantara barisan pohon nyiur mengarah ke pantai. Diantara kerumunan pengunjung kami melewati deretan pedagang makanan dan asesoris. Ramai sekali. Hamparan pasir mulai tampak di depan kami. Tiupan angin pantai mengundang Cecile dan Danny, dua teman ini segera berlari menuju pantai.

Yah, kog begini? seru Danny kecewa. Sementara Cecile hanya tersenyum masam. Hampir tak bisa dipercaya, mereka berdua seperti berdiri diantara hamparan sampah. Sampah-sampah plastik bekas bungkus biskuit dan makanan ringan lainnya tersebar hampir di seluruh areal berpasir itu. Botol-botol bekas minuman juga berserakan dimana-mana. Pantai ini benar-benar jorok.

Kami tertegun, tak tahu harus berbuat apa. Ransel ini mesti segera diturunkan dari punggung yang kian pegal, tapi pemandangan serba sampah membuat kami enggan berlama-lama disana. Bahkan untuk mengambil foto sekalipun, kami tak menemukan sudut yang layak karena selalu saja ada latar belakang onggokan sampah. Tampak juga di hamparan pasir itu sebuah lubang besar yang digali khusus untuk menimbun sampah-sampah apapun disana. Tak peduli sampah plastik, yang pastinya tak akan cepat terurai bahkan dalam hitungan ratusan tahun.

Kami mesti istirahat, setidaknya untuk melemaskan punggung yang telah dibebani ransel ini dari Jakarta. Dengan gontai kami berjalan menyusuri tepian pantai mencari tempat yang lumayan buat beristirahat. Sebuah kedai mungil di tepi pantai kami pilih karena relatif bersih. Kami pesan es kelapa muda. Di areal ini ada kebun binatang mini, kolam renang dan taman, tapi kami sudah kehilangan minat. Kami hanya duduk bersandar memandangi ratusan pengunjung yang seperti tidak terganggu dengan hamparan sampah di sekitar mereka.

Sepertinya banyak pengunjung belum menyadari pentingnya menjaga kebersihan lingkungan ini. Tapi, bisa jadi karena memang tidak ada tempat sampah yang tersedia, setidaknya yang mudah dilihat dan digunakan. Tidak ada larangan buang sampah sembarangan ataupun anjuran menjaga kebersihan lokasi wisata ini. Entah karena memang tidak dianggap penting, atau karena kerumunan pengunjung yang terlalu banyak membuatnya tidak terlihat. Pengelola mesti memprioritaskan pengelolaan sampah demi keasrian pantai ini.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!