Sesudah perizinan beres, perlengkapan standar pendakian ditambah perlengkapan khusus untuk medan es pun kami siapkan. Kami mengambil titik keberangkatan dari Balidumb kawasan terakhir yang bisa diakses kendaraan. Hari masih pagi buta. Jarum jam menunjuk angka 03.30 dini hari. Dingin menusuk tulang.

Bulan purnama sedang menari-nari di atas langit pegunungan Jayawijaya. Tanpa banyak uang waktu, kami segera memulai perjalanan karena khawatir kesiangan. Setidaknya kami harus sudah sampai di basecamp sekitar pukul 06.00 pagi.

Karena hari masih gelap, kami hanya bisa menyaksikan pemandangan danau-danau yang ada di sepanjang perjalanan dalam keadaan remang-remang. Ada tiga danau yang kami lewati. Sampai di danau ketiga, kami beristirahat sambil melaksanakan sholat subuh. Secangkir kopi hangat cukup membuat badan kami merasa hangat.

Matahari pagi sudah mulai memancarkan sinarnya, menembus bebatuan granit. Luar biasa indah pemandangan yang tampak di depan mata. Sayangnya kami tidak mungki berlama-lama menikmati indahnya alam. Puncak Meren Glacier sudah menunggu.

Memasuki pintu angin dengan tanjakan yang curam kami harus berhati-hati mengatur nafas. Syukurlah tapi kami bisa melewatinya hingga mencapai basecamp. Waktu tempuh 2,5 jam sudah kami jalani sesuai rencana.

Di basecamp kami mengatur strategi pendakian sambil memulihkan tenaga. Kopi hangat dan makanan kecil kami sikat sampai ludes. Seorang kawan rela menunggu di basecamp, dan berjanji menjadi akan menjadi koki jika kami kembali dari puncak nanti.Nasi goreng dan sup hangat pasti akan menyenangkan.

Usai sarapan dan sedikit pengarahan, kami segera bergerak lagi. Medan berbatu granit yang tajam tidak membuat kami menyerah, tapi nafas sudah terasa berat karena oksigen makin menipis di ketinggian 4,700 meter dpl. Kepala terasa pusing dan cepat lelah. Tapi berkat aklimatisasi dan latihan yang kami lakukan sebelumnya, perjalanan tetap dilanjutkan walaupun nafas terengah-engah.

Empat jam perjalanan dari basecamp, kami melewati tebing curam, sempit dan terjal. Namun sulitnya medan dan rasa lelah terobati dengan pemandangan batu-batuan yang indah bak monster aneh.

Di atas ketinggian 4,750 meter dpl puncak salju abadi itu mulai terlihat. Semangat kami kian terpompa. Dan ketika jarum jam menunjukkan pukul 09.30 pagi, kami sudah sampai di teras pertama.

Nafas kami terasa berat. Tapi tekad dan keinginan mencapai puncak yang menjadi impian para pendaki membuat kami pantang menyerah. Dan akhirnya, yes, kami berhasil berdiri di atas Nggapulu pada ketinggian 4,880 meter dpl!

Indah dan menakjubkan. Padang es abadi di tengah khatulistiwa negeri tropis. Sebuah anugerah Tuhan buat Indonesia dan dunia yang patut kita syukuri.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!