Sehari setelah tahun baru, sama bokap gue pergi ke peternakan daerah Subang buat nyari sapi. Maklum bokap kerja di pejagalan sapi. Perjalanan di tol itu enak banget, tapi sampai Subang banyak jalan yang nanjak dan berkelok-kelok. Tiap ada masjid yang sedang renovasi, banyak sekali warga yang mencari dana untuk pembangunan mesjid dengan menggunakan jaring ikan.

Daerah bokap gue nyari sapi itu di Subang pedalaman. Jalannya masih tanah dan berlubang, perlu kewaspadaan esktra melewati jalan ini. Khabarnya di daerah ini juga ada pasir hisap. Di sana juga ada perkebunan karet. Perkebunannya sedang dibuka di bagian tengahnya memakai traktor. Pembukaan lahan itu mungkin buat jalanan, entah ke arah mana.

Akhirnya kami sampai di peternakan sapinya. Sekitar 2 jam berkutat di sana, gue sama bokap langsung balik ke Jakarta. Sebelum pulang biasa icip-icip dulu makanan di warung kecil di daerah peternakannya, lumayan buat ganjel perut, soalnya sudah jam makan siang. Di warung itu disediakan lontong di bungkus daun pisang. Lontongnya sudah di potong-potong. Selain itu, ada kerupuk asinan yang warnanya kuning. Harganya murah banget, lontong sebungkusnya 2000 rupiah, sementara kerupuk hanya 500 rupiah. Makan siang semakin mantap ditemani sambal bumbu kacang yang pedasnya luar biasa.

Keluar dari desa pedalaman kawasan Subang, lagi-lagi ketemu yang unik tapi bikin gue kecewa juga. Di sana ada beberapa titik pungutan liar yang membuka gubuk kecil dengan anggota yang memakai seragam. Mereka menghentikan truk yang lewat dan meminta upeti.

Akhirnya gue masuk tol Padalarang arah Jakarta. Banyak sekali pengalaman yang tak bisa dilupakan dan ingin lagi ke sana dengan keramahan orang-orang Subang.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!