(dari kiri ke kanan) Iswanto-Kasubdit Tanaman semusim dan Rempah, Jalal-Komnas Pengendalian Tembakau, Abdillah Ahsan-Kepala Lembaga Demografi FEB-UI

Rumah Kebangsaan Jakarta kembali menggelar diskusi publik. Kali ini mengangkat tema mengenai nasib para petani tembakau di Indonesia. Ketidaksejahteraan petani tembakau di Indonesia menjadi fokus utama dalam diskusi ini. Para petani tembakau yang notabene merupakan penghasil bahan baku bagi “raksasa” perindustrian rokok malah minim perhatian dan berada di posisi yang lemah, baik dari pemerintah maupun produsen rokok itu sendiri.

Menurut Jalal dari Komnas Pengendalian Tembakau, lahan tembakau di Indonesia itu banyak, namun malah ada kecenderungan menurun. Kata dia, ini merupakan hal yang sangat memprihatinkan, dikala para produsen rokok menikmati hasil yang besar, petani tembakau yang merupakan pemasok bahan baku utama malah terlihat tidak sejahtera. Produsen rokok lebih memilih menggunakan tembakau impor yang harganya jauh lebih murah ketimbang tembakau lokal.

“Seharusnya, produsen rokok idealnya hanya boleh gunakan 20% maksimal penggunaan tembakau impor dan 80% menggunakan tembakau lokal”, ujar Jalal. Ia menambahkan, jika menengok tahun 2015, 54,71% kebutuhan tembakau untuk produksi rokok dalam negeri tak bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri.

Kepala Lembaga Demografi FEB-UI, Abdillah Ahsan pun sepakat, petani tembakau sesungguhnya berada dalam dilema. Penggunaan tembakau impor lambat laun “mematikan” para petani tembakau untuk berkembang. Salah satu solusi yang bisa diambil adalah membangun kemitraan antara produsen rokok dengan para petani tembakau, yang tujuannya menjamin kesejahteraan petani rokok melalui kepastian harga jual tembakau. Menurutnya petani tembakau  perlu diberikan wawasan yang terus-menerus mengenai komoditas selain tembakau, agar para petani tembakau dapat mengembangkan pertanian dengan beragam komoditas (multiple crops).

Indonesia merupakan negara agraris, namun kebanyakan dari petani tembakau tetap tidak sejahtera. Petani tembakau merupakan kontributor bagi tata niaga yang besar di Indonesia. "Pemerintah harusnya memiliki solusi yang bijak, misal membuatkan penelitian untuk penggunaan tembakau dalam bidang non-rokok, karena para petani tembakau di Indonesia begitu terikat dengan dunia produsen rokok. Namun pada saat ini, kebijakan masih dirasakan hanya menguntungkan para produsen tapi tidak bagi petani," ujar Abdillah.

Editor: Paul M Nuh 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!