“Bapak Saya Sudah Mati,” pesan itu ditulis Yatna Pelangi dalam novelnya “Pertanyaan Untuk Bapak” yang mengawali perjalanannya untuk sembuh dari trauma masa lalu. “Mati berarti sebuah awal kehidupan yang lebih baik,” begitu harapan yang Yatna sampaikan dalam diskusi film “Pertanyaan Untuk Bapak,” di SOAS, School of Oriental and African Studies, London, Kamis (22/10/2015) lalu. Novel itu ditulisnya 2014 sebagai awal dari riset Yatna untuk film dengan judul yang sama dan dirilis tahun ini. Dalam film ini Yatna bertindak sebagai subyek cerita dan juga sutradara.

Film berdurasi 40 menit ini bercerita pengalaman pribadi Yatna Pelangi yang mengalami kekerasan seksual dari ayahnya. Pengalaman pahit sejak kelas satu sampai empat Sekolah Dasar itu menyisakan trauma berkepanjangan. Yatna jadi takut gelap, bahkan takut mendengar suara gemericik air yang mengingatkannya pada kamar mandi tempat ayahnya pernah memerkosa dia. Mimpi-mimpi buruk datang selama 20 tahun setelahnya.

Yatna “memberanikan” diri membuat film dokumentasi tentang perjalannya mencari sang ayah ke Tanjung Pinang. Sejak ibu Yatna tahu tentang perlakuan keji sang ayah, dibawanya Yatna ke Jakarta dan mereka tidak lagi jumpa selama 20 tahun. Yatna merasa hanya dengan kembali ke masa lalu dan berani bertemu dengan ayahnya, trauma itu akan hilang. Yatna hanya ingin bertanya pada ayahnya,”Kenapa dia melakukan hal buruk itu pada dia, pada anaknya sendiri.”

Yatna akhirnya bertemu dengan ayahnya yang sudah berusia 84 tahun. Penuh emosi pertemuan itu berlangsung, meski tak tersampaikan secara lisan. Ketegangan terlihat di wajah Yatna dan ayahnya, mereka saling menghindari tatapan. Cukup lama buat Yatna menyiapkan diri untuk bertanya pada ayahnya, dan ketika momen itu tiba, dia bahkan tak bisa menyampaikannya dengan kalimat yang langsung dan tegas. Yatna berkata,”Saya kehilangan kata-kata, tidak keluar apa yang sebenarnya ingin disampaikan.” Sementara si ayah berusaha menghindar dari jawaban dengan percakapan melantur, seperti mengajak Yatna mampir ke lantai dua rumahnya.

Film diakhiri dengan Yatna merobek fotonya berdua dengan si ayah lalu pergi tanpa menengok lagi ke belakang.

“Bertemu adalah jawaban dari pertanyaan itu,”kata Yatna dan sejak pertemuan itu mimpi buruknya berkurang. “Saya ingin menyampaikan pada publik bahwa rumah yang selalu disebut aman ternyata tidak aman bagi saya,” sambungnya.

Sementara itu Julia Suryakusuma, aktivis perempuan dan hak asasi manusia yang mendampingi Yatna dalam diskusi tersebut mengatakan film ini sangat kuat menyampaikan pesan adanya relasi tak seimbang antara ayah sebagai figur kekuasaan yang bertindak sewenang-wenang terhadap Yatna, anaknya. “Film ini mengingatkan kita pada pentingnya kepedulian terhadap posisi LGBT dan anak-anak yang lemah di mata “kekuasaan,” dan pentingnya untuk anak-anak mendapatkan pendidikan seksual sedini mungkin, bagaimana mereka melindungi tubuh dari orang sekitarnya.”

Ada sekitar 200 organisasi pemerhati isu LGBT dan 120 diantaranya fokus pada isu HIV/AIDS. Sayangnya selama ini, peningkatan kepedulian terhadap LGBT masih terpusat dari komunitas terbatas seperti kampus. Meski sebagai catatan kata Julia, pada 2004, untuk pertama kalinya pesan tentang kehidupan LGBT muncul di media mainstream seperti bioskop lewat film Arisan, garapan sutradara Nia Dinata.

Film “Pertanyaan Untuk Bapak” adalah bagian dari tiga film tentang cerita rahasia keluarga, dibuat dan diproduksi awal 2015 di bawah asuhan Kalyana Shira Foundation dalam kegiatan “Project Change.”  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!