Lukisan Vintage (foto : KBR)

Melukis, tak harus di atas kanvas ataupun kertas. Banyak medium yang bisa digunakan untuk mengguratkan  apa yang kita inginkan. Papan yang terbuat dari kayu bekas, misalnya, ini  menarik juga lho untuk dijadikan pelampiasan seni lukis. Selain peduli lingkungan, lukisan-lukisan tersebut ternyata juga bisa bernilai rupiah.

Nah, Sara Shop, sudah melakukan hal ini sejak 2014. Menurut pemiliknya, Sari Priskila dan Rachel Sembiring, lukisan yang berkonsep vintage dan retro yang dituangkan di kayu/papan ini bisa digunakan untuk dekorasi ruang kerja, restoran atau cafe, bahkan studio siaran.

“Lukisan kita ada tema kopi, dekorasi dapur, mobil atau motor tua, laut dan lain-lain. Lukisan ini handmade dan kita punya pelukis sendiri dan workshop” ujar Rachel Sembiring kepada KBR pada program Obrolan Ekonomi.

Lukisan-lukisan yang ia tawarkan ini dituangkan di atas kayu jati Belanda dan kayu sengon. Kayu-kayu tadi adalah kayu bekas, lho. Rachel mengaku mencari kayu bekas ini  hingga ke Madura, karena di sana ada  tempat yang banyak mengumpulkan papan bekas paled. Kayu-kayu itu, lantas dipilih, dipotong dan diamplas. Setelah dilukis, barulah divernis sehingga terlihat kinclong.


Rachel Sembiring, Pemilik Sara Shop

Dalam sehari, papan kayu yang dihasilkan atau dibentuk sesuai ukuran yang diinginkan untuk melukis, bisa 15-20 piece. Sedangkan, satu orang pelukis bisa menghasilkan 5-8 piece lukisan dalam sehari. Meski begitu, kata Rachel, tetap tergantung tingkat kerumitan lukisan, karena ada juga pelukisnya yang hanya mampu merampungkan dua lukisan dalam satu hari.

“Kemarin ada pelukis  yang sudah tua mengeluh cuma dapat 1 lukisan, karena dia melukis Albert Einstein, dan susah dapet kemiripannya dengan  Einstein,” katanya.

Ia menambahkan, kalau musim hujan, proses pengeringannya memakan waktu sekitar 5 hari. Tapi, kalau matahari lagi tumpah ruah seperti saat ini, 2 hari saja sudah kering dan siap dijual.

Sementara itu, Sari Priskila menambahkan, untuk menarik perhatian pelanggan, mereka juga mengikuti trend  yang tengah hangat saat itu. Misalnya, dalam moment  Natal, maka dekorasinya akan dibuat senada.  Begitu juga jika datang moment Valentine, 17 Agustusan atau saat bulan ramadan.
 
“Yang banyak membeli lukisan adalah pemilik kafe dan barber shop. Dan setiap bulan, peningkatan penjualan trafiknya terus meningkat. Dalam sebulan, bisa meraup Omzet Rp75 juta. Promosinya dari mulut kemulut dan sosial media. Banyak juga media yang meliput bisnis kami. Dan kehadiran kami di studio KBR hari ini, juga bentuk promosi dan merupakan pengalaman pertama bersiaran di radio,” ujar Sari senang.


 

Harga lukisan ukuran 45x60, dipatok Rp215.000. Jika ukurannya lebih besar lagi, tentu saja harganya pun berbeda. Dalam sehari, Sari mengaku bisa menjual 20-25 lukisan, baik dari on line atau pengunjung yang datang langsung ke tempatnya di Jalan Pahlawan Revolusi, Pondok Bambu, Jakarta Timur.


“Kepuasan customer paling utama bagi kami, selalu berusaha menepati janji, supaya tamu atau pelanggan  tak kecewa,” pungkasnya.

Oh ya, dari sekitar 6 lukisan yang dibawa Sari dan Rachel ke studio KBR, mereka memberikan dua lukisan cantiknya kepada KBR. Dan lukisan itu, kini terpampang di ruang studio dan di ruang redaksi KBR.

Nah, tertarik ingin memiliki lukisan-lukisan vintage ini, sila kulik websitenya di  http://www.sarajakarta.com


Suasana Talkshow  


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!