rumah, keramik, widayanto, depok

Kereta Commuter Line yang membawa saya dari Jakarta berhenti di stasiun Pondok Cina kurang lebih pukul 10.00 WIB, setelah pintu terbuka bergegas saya melangkahkan kaki menuju pintu keluar stasiun. Saya mencari-cari sosok Mbak Tetty Suprianty di parkiran motor, kami sudah janjian bertemu di stasiun ini tapi sosok yang saya cari tak terlihat juga. Melalui pesan singkat WhatsApp yang saya kirim di HP  saya mencari tahu keberadaan Mbak Tetty, lima menit berikutnya datanglah Mbak Tetty dengan mengendarai motor. Uut Dinsih belum datang jadi kami harus menunggunya, sebagai warga Depok Mbak Tetty akan menjadi pemandu wisata buat kami teman-temannya yang berdomisili di Jakarta. Destinasi wisata yang kami pilih weekend  kali ini adalah Rumah Keramik F. Widayanto di kawasan Tanah Baru Depok. Sebagai kota yang tumbuh pesat kemacetan kota Depok pun hampir sama dengan Jakarta, agar bisa menerobos kemacetan Mbak Tetty mengajak kami menggunakan motor untuk menuju kawasan Tanah Baru Depok. “Kita motoran aja supaya nggak kena macet,” kata Mbak Tetty beberapa hari sebelumnya. Akhirnya Uut Dinsih datang juga, matahari mulai terik buru-buru kami meninggalkan kawasan kampus Universitas Indonesia, saya dibonceng Mbak Tetty dan Uut Dinsih mengendarai motornya sendiri.

Menjelang siang jalanan di Depok mulai macet, Mbak Tetty melajukan motornya berusaha menerobos kemacetan diikuti motor Uut Dinsih. “Di depan ada perempatan jalannya kecil jadi macet,” jelas Mbak Tetty kepada saya. Sepertinya Mbak Tetty sudah hafal benar situasi jalan-jalan yang kami lewati, sampai akhirnya Mbak Tetty membelokkan motornya ke kiri, wah sudah sampai batin saya ketika melihat tempat yang rindang dipenuhi pepohonan. Setelah memarkirkan motornya Mbak Tetty melangkah menuju pintu gerbang utama diikuti saya dan Uut Dinsih. Ada buku tamu yang diletakkan di atas meja, seorang pria berseragam safari menghampiri kami.

“Tiketnya sepuluh ribu rupiah,” sapa petugas berseragam safari sambil tersenyum.

“Saya bisa nggak bayarkan Mas? Kan saya bawa tamu terus,” tawar Mbak Tetty sambil bercanda.

“Nanti tiketnya bisa ditukarkan dengan minuman,” jelas petugas tersebut.

Tiga lembar tiket masuk sudah ada di tangan kami setelah membayar tiga puluh ribu rupiah, jangan lupa  mengisi buku tamu ini bukti bahwa kami pernah berkunjung ke tempat ini. Rumah Keramik F. Widayanto terbuka untuk umum, buka setiap hari mulai pukul 9 pagi sampai pukul 4 sore kecuali hari libur nasional. Bangunan pintu gerbang utamanya bergaya rumah Joglo Jawa dengan ukiran kayu pada pintu dan jendela. Di kiri dan di kanannya diletakkan meja dan kursi kayu sehingga pengunjungpun bisa bersantai. Nuansa keramik sudah ada di sini, lampu gantungnya terbuat dari keramik yang unik bermotif daun. Ada juga keramik bermotif kupu-kupu di letakkan di kiri dan di kanan pintu sepertinya berfungsi sebagai tempat sampah. Saya semakin penasaran untuk mengintip ke dalam bangunan di atas tanah seluas kurang lebih satu hektar ini yang beralamat di jalan Curug Agung No.1 Tanah Baru Beji, Depok Jawa Barat dan dikenal dengan nama Rumah Tanah Baru F. Widayanto. Rumah Tanah Baru ini dibangun oleh F. Widayanto sejak tahun 2007, Pria kelahiran tahun 1953 ini dikenal sebagai keramikus kreatif lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.

Rumah Keramik F. Widayanto dibangun di tanah berundak-undak bertingkat tiga. Di tanah lantai satu terdapat pendopo ini adalah restoran yang menyajikan aneka menu makanan tradisional Indonesia jadi kita bisa sekaligus wisata kuliner di sini. Di sebelah kanannya ada bangunan hijau berlantai dua, lantai dasarnya di peruntukkan sebagai galeri atau toko keramik sedangkan lantai duanya disewakan untuk ruang pertemuan. Di tanah tingkat dua terdapat rumah kediaman F. Widayanto dan taman sedangkan di tanah lantai tiga berdiri sebuah studio keramik. Di tanah lantai satu dan lantai juga terdapat rumah panggung yang disewakan dengan tarif per malamnya berkisar antara Rp.400.000 sampai Rp.800.000. Pohon perdu dan tanaman hias sengaja ditanam di setiap sudut dan mengepung Rumah Keramik ini, sehingga menciptakan suasana segar, sejuk dan lingkungan yang sangat asri.

Sejenak saya lupa akan terik dan panas serta kemacetan kota Depok ketika melangkahkan kaki di atas rerumputan. Suasana yang sunyi, sejuk dan asri ini telah menghipnotis saya. Rumah ini dibangun dengan konsep hunian tropis dan hidup beraktifitas selaras dengan alam sekitarnya. Beberapa Karyawan sedang merapikan tanaman di taman, memangkas daun-daun yang terlalu rimbun dan mulai mengering.

“Pak Widayanto ada Mas?” tanya Mbak Tetty kepada petugas berseragam safari tadi.

“Bapak sedang di luar kota,” jawab petugas.

“Pak Widayanto memang sering keluar kota kalau weekend,” jelas Mbak Tetty kepada saya dan Uut “Beliau juga punya rumah di daerah Tapos,” tambah Mbak Tetty. Gaya bicara Mbak Tetty benar-benar seperti pemandau wisata profesional dari travel agent.

“Itu bangku tempat favorit saya setelah keliling-keliling bisa duduk sambil minum teh sereh,” Mbak Tetty menunjuk suatu tempat “tapi nanti aja kalau sudah rapi nggak ada daun-daun lagi,” jelas Mbak Tetty berikutnya.

Kemudian saya dan Uut Dinsih diajak ke atas langsung ke Studio Keramik, di tangga kami berpapasan dengan salah seorang karyawan berseragam putih biasa dipanggil Mas Misbah.

“Saya datang lagi Mas,” sapa Mbak Tetty sambil tersenyum.

“Silahkan,” kata Mas Misbah sambil membalas senyuman.

Karena sering datang ke tempat ini rupanya Mbak Tetty sudah akrab dengan karyawan di sini.

Studio Keramik

Menaiki beberapa anak tangga sampailah kami di bangunan pada dataran tanah teratas Rumah Keramik F. Widayanto. Di ruang terbuka ini kita bisa belajar cara membuat keramik, salah satu program yang bisa kita ikuti adalah Fun With Clay atau Bermain Keramik. Dengan membayar tarif sebesar Rp.110.000 kita akan mendapatkan tepung tanah liat atau clay seberat 400 gram atau clay seberat 300 gram seharga Rp. 95.000. Kita juga bebas memilih model cetakan yang dikehendaki. Biasanya clay seberat 400 gram akan menghasilkan dua model keramik sedang atau kita bisa mencetak dengan model cetakan yang kita pilih sampai clay habis. Kemudian ada instruktur yang akan mengajarkan bagaimana cara membuat kreasi keramik. Mulai dari cara mencetak, mengeluarkannya dan melakukan finishing touch sehingga menghasilkan keramik yang cantik. Setelah clay habis tercetak tugas kita hanya sampai di sini, proses berikutnya adalah pengeringan, pewarnaan dan pembakaran yang akan dilakukan oleh tim ahli dari Rumah Keramik F. Widayanto. Hasil keramik bisa diambil setelah tiga minggu atau bisa dikirim ke alamat kita dengan membayar biaya kirim.

Studio Keramik ini cukup luas, meja kursi diletakkan memanjang menjadi beberapa baris. Beraneka macam cetakan keramik diletakkan di atas meja, cetakannya lucu-lucu loh ada cetakan berbentuk daun, kupu-kupu, buaya, karakter kartun anak-anak dan masih banyak lagi. Mbak Tetty dan Uut Dinsih menghampiri Pak Yadi, Pak Yadi adalah salah satu instruktur di Studio Keramik ini. Di tangannya ada keramik yang sedang diwarnai, mencelupkan kuas ke ember kecil berisi cat dan menyapunya ke keramik berbentuk bunga. Di kirinya ada rak besi penuh dengan susunan keramik-keramik siap untuk diwarnai. Pak Yadi tidak sendirian menjadi instruktur di Studio Keramik ini, ada Mas Aip yang membantunya. Jika tidak ada peserta Fun With Clay, bersama Mas Aip lah Pak Yadi menyelesaikan proses pewarnaan keramik-keramik. Cetakan keramiknya dibuat sendiri oleh F. Widayanto dan sebagian dibuat oleh Pak Yadi. Yang paling menarik perhatian saya adalah barisan ember-ember kecil berisi cat pewarna. Warna-warna inilah yang menjadikan keramik-keramik ini menjadi cantik.

“Warna-warna cat itu sendiri dari mana Pak?” tanya saya penasaran.

“Material pewarnanya terdiri dari campuran cobalt, kaolin, zircon, sulfur dan batuan alam,” jelas Pak Yadi.

“Nah untuk menghasilkan warna merah, biru dan hijau itu sendiri dari apa Pak?” tambah saya.

“Jika dicampurkan dengan cobalt maka menghasilkan warna biru, zircon akan menghasilkan warna hijau,” ujar Pak Yadi.

Ternyata pewarnanya berasal dari unsur-unsur yang ada di alam. Karena proses pewarnaan itu rumit makanya dikerjakan oleh tim ahli dari Rumah Keramik. Proses pengeringannya pun memakan waktu dua sampai tiga hari. 16 jam melalui proses pembakaran dengan suhu 1.250 derajat celsius. Bahan baku tanah liat atau earthenware nya didatangkan dari Sukabumi Jawa Barat, Pak Widayanto sendiri yang  awalnya  meneliti dan menemukan kalau di Sukabumi ada earthenware. Puas berada di Studio Keramik, Mbak Tetty mengajak saya dan Uut Dinsih melihat seperti apa rumah tinggal F. Widayanto.

Rumah Tinggal F. Widayanto

Dari Studio Keramik kami turun ke tanah tingkat dua, jika masuk melalui pintu depan kita akan menemukan meja kursi kayu di teras rumah. Tapi kalau kita masuk melalui pintu samping kita akan menemukan kursi sofa dengan bantal warna-warni, di atasnya ada sentuhan hiasan daun dan ranting kering. Mari kita lihat ke dalam rumah tinggal F. Widayanto, semua unik penuh dengan koleksi patung keramik. Saya sempat kaget ketika melihat di atas meja besar ada pot bunga dengan rangkaian daun palem kering. Di bawahnya ada 5 patung kepala orang warna hitam, ini adalah patung masterpiece tokoh inspirator bagi F. Widayanto yaitu Screaming, Tourist, The Maestro, Michelangelo adalah sang pelukis, pemahat dan arsitek yang meninggalkan hasil karya yang memesona setiap orang yang melihatnya dan patung Si Mbok adalah ibu angkat F. Widayanto. Dari semua patung keramik yang dibuat F. Widayanto, hanya 5 patung Inspirator itu yang tidak dijual bahkan dibuat berbeda.

Tak hanya daun-daun kering yang menjadi interior rumah, di belakang kursi sofa juga diletakkan bambu-bambu kering dan payung coklat, dipercantik dengan lukisan pohon pada dindingnya. Piring-piring keramik tersusun rapih di dinding. Atap rumahnya dibuat tinggi, pada dinding atasnya dipasang jendela kaca sehingga cahaya matahari bisa masuk ke dalam rumah. Rumah ini dibangun dengan banyak jendela, meskipun rumah ini tak berpendingin AC tapi saya tetap merasa sejuk. Di meja makan diletakkan dua patung orang salah satunya adalah patung Sri Kantili.

Jika ingin merasakan hunian rumah yang asri dengan interior yang unik, ada satu kamar yang bisa kita sewa dengan tarif kamar per malam Rp. 1.500.000. Kita bisa menikmati kamar dengan nuansa tradisional yang khas. Fasilitas yang diberikan adalah tempat tidur besar berkelambu putih, di depannya diletakkan sepasang patung pengantin Jawa. Ada juga lemari pakaian kuno yang unik,  kamar ini dilengkap dengan teras kamar dan bangku santai langsung berhadapan dengan pemandangan pohon-pohon hijau menyejukkan mata. Dinding kamar mandinya dihiasi dengan interior ikan-ikan keramik, keran dan bak mandinya pun terbuat dari keramik. Apakah di dapur peralatan makannya juga serba keramik? Tentu saja. Piring, mangkuk dan cangkir semua dari keramik disusun rapi di kitchen set.

Kamar pribadi F. Widayanto terletak di lantai dua, melewati tangga kayu terbuat dari kayu jati saya menemukan jendela dengan teralis bermotif daun yang menjalar. Jendela ini dikelilingi 7 wayang keramik. Wayang-wayang keramik ini adalah produk ekslusif karya F. Widayanto, dijual dengan harga berkisar dari Rp.15.000.000 sampai Rp.18.500.000. Salah satunya adalah wayang keramik Kinanthi dengan dimensi lebar 28 cm, tinggi 74.5 cm dan berat 3.1 kg seharga Rp. 18.000.000. Wayang-wayang  keramik ini dibuat oleh F. Widayanto terinspirasi berdasarkan karakter yang ada pada cerita Mahabharata dan Ramayana , seri ekslusif penuh ekspresi artistik yang memikat imajinasi. Dibuat dari jenis tanah liat stoneware kualitas terbaik yang ada di Sukabumi, Jawa Barat.

Tak hanya kreatif dalam membuat keramik, F. Widayanto juga pandai melukis. Keduanya dipadukan dalam karyanya berupa lukisan wajah di atas keramik. Terdapat kurang lebih 30 lukisan wajah di atas keramik, beraneka ekspresi wajah pria dan wanita dalam lukisan keramik memenuhi dinding pada anak tangga menuju kamar pribadi F. Widayanto. Di kamar pribadi F. Widayanto sendiri terdapat patung orang “Double Cigars”, tak hanya itu beberapa lukisan dan wayang keramik menempel pada dinding kamar. Kami tidak berlama-lama di sini, meskipun kamar ini boleh dimasuki pengunjung tapi saya tetap menganggap ini kamar pribadi.

Hari beranjak siang dan pengunjung mulai ramai berdatangan. Di Studio Keramik ada beberapa anak sedang belajar membuat keramik dibimbing oleh Pak Yadi. Mbak Tetty mengajak saya dan Uut Dinsih istirahat di bangku favoritnya di taman. Waaah sepertinya ini juga akan jadi bangku favorit saya kalau berkunjung ke tempat ini. Tempatnya sejuk dikelilingi pohon, Mbak Tetty menukarkan tiket masuk kami dengan minuman teh sereh. Sambil ngobrol kami menikmati teh sereh dalam cangkir keramik, angin segar berhembus melalui rimbunnya pepohonan. Yang lebih unik mejanya juga terbuat dari keramik, ada empat kotak persegi panjang masing-masing kotak bermotifkan keramik berbentuk ikan, katak dan kura-kura. Empat kotak persegi panjang ini adalah kotak permainan halma. Sambil bersantai kita juga bisa bermain halma di sini.

Sebelum pulang kami menyempatkan mampir ke galeri atau toko keramik. Jika ingin membawa pulang oleh-oleh keramik kita bisa membelinya di sini. Keramik yang dijual di galeri atau toko keramik ini adalah jenis keramik yang dapat kita gunakan sebagai aksesoris atau hadiah, peralatan makan, interior dan eksterior, perlengkapan kamar mandi dan keramik dalam bentuk simbol agama. Satu etalase berisi aneka keramik berbentuk gajah, kura-kura, burung hantu, buaya dan masih banyak lagi. Di depannya ada etalase berisi piring keramik, cangkir keramik, mangkuk keramik dan perlengkapan makan lainnya. Keramik berbentuk salip ditempelkan di dinding, disampingnya ada dua pot bunga keramik dan satu bak mandi besar. Tak jauh dari etalase berisi peralatan makan, ada meja besar di atasnya diletakkan piring-piring keramik bertuliskan Allah dan Muhammad, ada juga beberapa baju keramik. Saya perhatikan dalam setiap karyanya F. Widayanto selalu menyertakan motif daun ke dalam keramik yang dibuat. Kemudian perhatian saya tertuju pada topeng keramik dengan ekspresi wajah cemberut menempel di dinding di samping pintu.

Tak jauh dari toko keramik ada rumah panggung, kami penasaran untuk masuk ke dalamnya. Di tiang rumahnya ada papan bertuliskan Jineng Kandang Kerbau, loh ini rumah atau kandang kerbau batin saya. Ternyata bagian bawahnya dulu merupakan kandang kerbau, jadilah dinamakan Jineng Kandang Kerbau. Tak terasa tiga jam kami bermain-main di Rumah Tanah Baru dan saya masih ingin kembali suatu saat nanti mungkin untuk belajar membuat kreasi keramik. (Mulyati Asih)


Foto-fotonya klik: Rumah Keramik F. Widayanto

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!