juru masak di tengah papua

KBR - Penampilannya unik. Rambut panjang gimbal diikat dan digelung ke atas. Salah satu kuping dicantoli anting lingkar besar. Aneka asesoris menempel di tas etniknya. Saat tidak sedang “dinas” ke mana-mana ia mengenakan celana dan sepatu boot khas kaum traveller. 


Charles Toto namanya. Asli Jayapura. Profesinya juga top. Sehari-hari dia adalah juru masak alias chef. Namun bukan chef biasa. Aksinya pun tidak di dapur hotel bening atau restoran mewah, melainkan di rerimbunan belantara Papua. Kerjaanya memang keluar masuk hutan menemani dan memberi makan turis-turis yang gila petualangan alam liar.


“Saya masak makanan yang biasa mereka makan. Misalnya spageti atau pizza. Tapi bahan-bahannya memanfaatkan yang ada di hutan. Atau bahan-bahan lokal yang kami bawa. Di tengah hutan makan tetap enak seperti di hotel,” ujarnya saat mengikuti pelatihan jurnalis warga di  Sentani September lalu.  


Bekal keahlian mengolah masakan dia dapat di sekolah kejuruan. Dia ambil jurusan tata boga. Setelah lulus, Charles sempat menjajal ilmunya dengan menjadi juru masak di sebuah hotel kecil kawasan Sentani. Namun tak lama. Nah, di penghujung Orde Baru sekarat,  rupanya banyak turis asing kepincut dengan tanah Papua. 


“Waktu itu banyak sekali turis traveling ke hutan Papua. Saya amati, mereka makan ala kadar. Kadang cuma bikin mie rebus. Nah, saya kepikiran untuk membuatkan mereka makanan enak saat di hutan”, katanya menceritakan asal-muasal itu profesi. 


Tawaran menjadi juru masak di hutan ini mendapat sambutan bagus dari para turis. Mulai tahun 1998, ia sibuk menemani para turis yang melancong ke Papua. Akhirnya si turis pun “getok tular” mempromosikan namanya. Charles tak ingat pasti berapa jumlah turis yang telah memanfaatkan jasanya. “Ratusan lah,” kata dia. 


Selain traveling, sebagian turis melakukan penelitian ragam hayati atau benda-benda budaya. Ada pula yang membuat film dokumenter. Salah satu langganannya adalah TV Perancis. “Ada yang dari Rusia, Jepang, Italia. Paling banyak turis Jerman dan Amerika,” katanya. 


Tidak sedikit selebritis dunia yang diam-diam berpetualang ke Papua dan minta jasa masak Charles. Yang paling berkesan baginya adalah saat menemani Mick Jagger, vokalis band tersohor The Rolling Stones. “Dia terbang dari Bali ke Wamena. Body guard-nya gede-gede. Nggak ada wartawan yang tau,” kata Charles. 


Yang paling seru adalah saat membawa rombongan turis Perancis ‘blusukan’ ke Suku Korowai. Di saat mereka istirahat di tenda, tiba-tiba terjadi perang suku.  Orang-orang berlarian membawa senjata tradisional. “Turis-turis itu mengira ini bagian dari atraksi yang kami suguhkan. Mereka senang sekali. Langsung ambil kamera. Saya panik. Deg-degan. Kalau kena panah, bisa celaka….” kata Charles sambil tertawa mengingat peristiwa itu. 


Setiap tahun, rata-rata Charles melayani 2 hingga 4 kali trip ke rimba. Sekali jalan biasanya 5 orang. Ini jenis petualangan yang tidak murah. Harga paketnya antara 15 hingga 20 jutaan perorang untuk durasi dua minggu. “Kami tanggung semua. Fasilitas makan, tidur, MCK”, kata dia.  Karena tidak murah, traveller Indonesia hampir tak ada. 


Kini Charles membentangkan sayap dengan mengembangkan jaringan masak-memasak di hutan ke seluruh Papua. Tahun 2008 dia mengumpulkan para juru masak lokal lalu membentuk komunitas juru masak rimba Papua alias Papua Jungle Chef Community. Anggotanya berkisar 60 orang. Mereka menyebar dari Raja Ampat, Manokwari, Merauke hingga Boven Digul. 


Medium komunikasi dan pemersatunya adalah sebuah blog di alamat http://papua-jungle-chef-community.blogspot.com/. “Saya ketua komunitasnya,” kata Charles mantap. 


Foto-Fotonya bisa dilihat di sini: Chef Ini Memasak di Tengah Hutan Papua


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!