NTB, Tambora Menyapa Dunia 2015

KBR68H- Tambora Menyapa Dunia 2015 merupakan salah satu ajang promosi pariwisata NTB. Agenda besar itu untuk mencuri perhatian dunia terkait peringatan dua abad meletusnya gunung Tambora. Meski infrastruktur dan perhotelan masih terbatas di pulau Sumbawa, namun even  ini diyakini akan tetap terselenggara dengan baik dengan dukungan perhotelan di Lombok.

Ketua DPD Asosiasi Kongres dan Konvensi Indonesia atau INCCA NTB Misbach Mulyadi  mengatakan, membenahi infrastruktur dalam jangka waktu singkat itu tidak mudah. Meski dukungan perhotelan dan infrastruktur di sekitar wilayah Tambora masih minim, namun nama besar Tambora akan tetap laku dijual untuk meningkatkan angka kunjungan wisatawan

“Menuju 2015 itu kan artinya kita sosialisasi. Kita perkenalkan bahwa disana ada Tambora meletus tahun sekian dengan dampaknya seperti ini. Itu saja yang biasa kita jual. Persiapan-persiapannya sama dengan persiapan pariwisata lainnya. Artinya setiap teman-teman mau kemana kita katakan bahwa kita punya program Tambora Menyapa Dunia”kata Misbach.

Anggota Komisi II bidang Pariwisata DPRD NTB ini mengatakan, even Tambora Menyapa Dunia 2015 untuk mencari nama dari dunia internasional. Proses pengenalan atau promosi kegiatan ini sudah sejak lama dilakukan. Harapannya agar wisatawan domestik dan mancanegara datang berkunjung ke wilayah Tambora atau ke sejumlah destinasi wisata di Lombok dan Sumbawa

Gunung Tambora pernah meletus hebat tahun 1815 silam. Dampaknya dikirim keseluruh dunia. Bahkan tahun 1816 dikenal sebagai tahun tanpa musim panas di belahan dunia Eropa dan Amerika akibat letusan gunung tersebut. Tahun 2015 mendatang tepat dua abad meletusnya gunung Tambora. Pemerintah NTB memperingatinya dengan mengadakan sejumlah event untuk mencuri perhatian internasional.

Sumber: Radio Global FM Lombok

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!