kuburan batu, tana toraja, rantepao

Hari sudah malam ketika mobil yang kami tumpangi memasuki kota Rantepao ibu kota Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Setelah berkeliling untuk mencari penginapan akhirnya menemukan wisma yang letaknya di pinggir jalan. Terlihat 2 orang penjaga wisma sedang duduk-duduk di depan pintu. Hanya tersisa 2 kamar yang masing-masing kamar dilengkapi 3 tempat tidur, pas sekali dengan rombongan kami yang jumlahnya 6 orang. Setelah cocok dengan harga yang ditawarkan dan melihat isi kamar, kami memutuskan memesan 2 kamar tersebut untuk bermalam.

Di kota Rantepao inilah biasanya wisatawan menjejakkan kakinya. Tersedia banyak penginapan di kota ini mulai dari hotel, wisma ataupun homestay dengan harga bervariasi. Selain itu destinasi-destinasi menarik di Toraja lebih banyak tersedia di Toraja Utara, sehingga lebih mudah untuk dicapai dari sini. Satu kali perjalanan kita bisa mengunjungi beberapa destinasi sekaligus kerena letaknya searah dan berdekatan. Untuk mencapainya pun sangat mudah, di pinggir jalan terpasang papan besar penunjuk arah yang disponsori oleh salah satu perusahaan operator seluler. Jalannya pun lebar mulus beraspal.

Secara administratif Tana Toraja terbagi menjadi dua yaitu, kabupaten Tana Toraja dengan ibu kota Makale dan kabupaten Toraja Utara dengan ibu kota Rantepao. Gerbang untuk menuju Tana Toraja dimulai dari  Makassar.  Dari Makassar kita bisa melanjutkan pejalanan ke Rantepao dengan menyewa mobil atau naik bis dengan jam keberangkatan pagi atau malam. Jalur darat ini dapat dapat ditempuh selama 7-10 jam dengan jarak sekitar 300 km. Selain jalur darat saat ini sudah tersedia penerbangan dari Bandara Hasanuddin Makassar ke Bandara Pontiku Tana Toraja yang memakan waktu sekitar 2 jam dengan pesawat casa 212.

Tana Toraja adalah perpaduan antara agama, adat istiadat, seni dan budaya yang berjalan selaras. Tana Toraja terkenal dengan upacara pesta kematian (Rambu Solo) dan kuburan batu. Hal ini yang menjadikan daya tarik wisatawan lokal bahkan tersohor sampai ke mancanegara. Di Tana Toraja upacara pesta kematian lebih meriah jika dibandingkan dengan pesta pernikahan. Orang Toraja menganggap bahwa kematian adalah hal yang sakral. Kematian adalah bukan akhir dari perjalanan hidup seseorang. Mereka percaya ketika meninggal, arwah seseorang akan melakukan perjalanan menuju tempat bernama Puya. Untuk mempermudah perjalanan arwah tersebut, keluarga yang ditinggalkan akan mempersembahkan atau menyembelih kerbau sebagai kendaraan dan babi sebagai makanan.

Tak heran jika keluarga yang ditinggalkan pun akan berusaha sekuat tenaga untuk mempersembahkan kerbau dan babi sebanyak mungkin, minimal 24 kerbau. Jumlah dari persembahan yang dikorbankan berpengaruh pada status sosial keluarga tersebut. Semakin banyak kerbau yang disembelih semakin tinggi status sosialnya. Sambil menunggu upacara pesta kematian (Rambu Solo), jenazah tersebut diawetkan dan dibaringkan di rumah selama berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan sampai puluhan tahun tergantung kesediaan keluarga untuk melaksanakan upacara Rambu Solo. Pada bulan Desember saat libur Natal atau libur Hari Raya Idul Fitri, keluarga yang merantau akan pulang ke Toraja. Saat itulah biasanya upacara Rambu Solo diadakan. Wisatawan pun akan datang untuk menyaksikan upacara unik tersebut. Upacara Rambu Solo memakan waktu berhari-hari dan biasanya diadakan pada siang hari.

Orang Toraja tidak menguburkan jenazah di dalam tanah, tapi di dalam batu. Mereka menganggap tanah adalah elemen suci yang menumbuhkan kehidupan, sehingga jenazah lebih baik disimpan di dalam batu. Saya melihat kondisi geografis Tana Toraja dikelilingi oleh bukit batu, sehingga hal ini pula yang menjadikan budaya ini ada.

Berkunjung ke Tana Toraja tak ubahnya seperti berziarah. Karena kami menyewa mobil dari Makassar, maka kami tak perlu lagi menyewa motor untuk berkeliling ke tempat tujuan wisata. Wisatawan yang datang dengan menumpangi bis biasanya akan menyewa motor. Motor sewaan ini dapat ditemukan di tempat kita menginap. Dari penginapan kami menuju ke arah Tenggara, tujuan wisata pertama yang kami kunjungi adalah Kete Kesu.

Kete Kesu

Kete Kesu adalah sebuah desa dengan potret lengkap Tana Toraja yang wajib dikunjungi. Dapat ditempuh selama 30 menit dengan jarak sekitar 4 km dari Rantepao. Di sini terdapat Desa Adat dan Kuburan Batu. Udaranya sejuk dikelilingi bukit batu dengan pohon rindang dan hamparan sawa menghijau. Untuk dapat mengelilingi Kete Kesu kami harus mengisi buku tamu, wisatawan lokal dikenakan tarif  Rp. 10.000 dan wisatawan mancanegara Rp. 20.000 .

Terdapat sederetan rumah adat para leluhur (Tongkonan) yang berjajar saling menghadap. Tongkonan berdiri tinggi dengan konstruksi kayu, atap bangunannya terbuat dari susunan bambu yang dibelah. Bentuk bangunannya melengkung menyerupai perahu, pada dinding bangunan terdapat ukiran-ukiran sebagai eksterior yang menggambarkan simbol-simbol dari benda yang ada di sekitar kehidupan manusia. Saya melihat banyak Tongkonan  dihiasi ukiran ayam jantan pada bagian atas muka bangunan, ternyata hal ini melambangkan kepemimpinan yang arif dan bijaksana, dapat dipercaya oleh karena pintar, pemahaman dan intuisinya tepat serta selalu mengatakan apa yang benar.

Ada beberapa Tongkonan dihiasi ornamen tanduk kerbau, tanduk kerbau tersebut disusun dari bawah ke atas pada sebuat tiang di depan Tongkonan. Banyaknya tanduk kerbau menggambarkan status sosial pemiliknya ketika upacara Rambu Solo.

Upacara adat Toraja sering digelar di sini, mulai dari pemakaman adat yang dirayakan meriah (Rambu Solo), upacara memasuki rumah adat baru (Rambu Tuka) serta berbagai ritual lainnya.

Puas melihat Tongkonan, kami berjalan ke arah belakang rumah adat menuju bukit batu. Terlihat beberapa Tongkonan mewah milik seorang bangsawan, lengkap dengan patung kayu orang (Tau-Tau) yang menyerupai almarhum selama hidup, sekilas menyerupai foto.  Berjalan terus ke arah bukit di sana terdapat banyak pemakaman. Peti-peti mati diletakkan menggantung di tebing dengan disangga kayu, ada beberapa yang dibuatkan rumah papan. Di bawah bukit terdapat tumpukan tulang-tulang dan tengkorak manusia. Sadar bahwa saya sedang masuk ke pemakaman, saya memberi salam dengan membaca doa masuk ke pemakaman dan tak lupa mendoakan arwah yang ada di sana.

Bukit batu ini dapat kita naiki, karena pada dindingnya dibuatkan tangga. Sehingga kita bisa melihat dengan jelas peti mati yang tergantung tersebut. Rata-rata bentuk peti matinya menyerupai perahu, tapi ada juga yang berbentuk seperti kerbau atau hanya kotak biasa lengkap dengan ukiran yang menghiasinya. Diperkirakan umur peti mati ini sudah ratusan tahun, hal ini terlihat banyak peti mati yang kondisinya sudah hancur. Terlihat tulang-tulang di dalam peti tersebut, bahkan ada tengkorak yang diletakkan di atas peti mati. Pada dinding bukit terlihat juga lubang-lubang yang ditutup teralis besi hal ini katanya untuk menghindari pencurian terhadap Tau-Tau, di luarnya tergantung peti mati yang hampir hancur.
Menaiki tangga di ujungnya akan kita temui mulut goa, sayangnya goa tersebut di tutup oleh teralis besi. Menurut penjaga bernama Nathan yang saya temui di sana, goa tersebut terhubung dengan sebuah benteng peninggalan masa perjuangan melawan penjajah. Di dalam goa tersebut terdapat banyak makam. Di pintu masuk goa, di atas batu ada makam salah satu atlit renang asal Tana Toraja yang pernah ikut Pekan Olah Raga Nasional (PON). Di antara tulang-tulangnya terdapat beberapa botol minuman, rokok dan kartu identitas serta foto yang dicetak besar. Keluarga yang berkunjung biasanya akan membawakan barang-barang yang disukai almarhum selama hidup.

Londa

Londa adalah salah satu pemakaman goa yang paling populer menjadi tujuan wisata. Terletak di desa Sandan Uai kecamatan Sanggali. Lokasinya kurang lebih 7 km dari Rantepao. Dari kejauhan terlihat bukit batu yang dirimbuni pepohonan, di sanalah peti-peti mati tersebut di makamkan. Londa adalah pemakaman khusus untuk satu marga saja yaitu marga Tolengke.

Melihat lebih dekat ke bukit batu tersebut, terlihat tumpukan peti mati (Erong) tergantung di tebing curam dengan hanya disangga oleh kayu. Erong biasanya diisi oleh jenazah satu keluarga. Pengaturan penempatan Erong pun dikelompokkan berdasarkan garis keluarga. Semakin tinggi Erong ditempatkan di bukit, maka semakin tinggi status sosialnya dalam masyarakat.

Di tebing yang curam itu terlihat sederetan patung kayu orang (Tau-Tau) yang diletakkan di dalam etalase kayu tanpa kaca. Tau-Tau adalah kayu yang diukir dan dipahat semirip mungkin dengan jenazah yang dimakamkan di sana lengkap dengan pakaiannya. Hanya dari golongan bangsawanlah yang dapat dibuatkan Tau-Tau dan dipasang di etalase tersebut.

Di bukit batu tersebut terdapat dua buah pintu masuk goa yang saling terhubung. Untuk bisa melihat isi goa kita perlu alat penerang. Kami pun menyewa jasa pembawa lampu petromaks yang merangkap sebagai pemandu wisata dengan tarif Rp. 30.000. Kontur goanya dilengkapi dengan stalagtit dan stalagmit yang cantik. Masuk ke dalam goa berhati-hatilah karena ada stalagtit (batu kapur yang tumbuh dari atas goa ke dasar goa) yang tingginya hampir menyentuh dasar goa, sehingga kita perlu berjalan sambil menunduk.

Udara di dalam goa sangat lembab, dingin tapi tidak berbau. Menelusuri ke dalam goa, terdapat banyak tulang-tulang dan tengkorak manusia tergeletak di dasar goa.  Terlihat sederetan tengkorak yang diletakkan di atas batu, ada juga yang diselipkan diantara celah-celah batu. Di sudut lain terlihat tumpukan peti mati yang disusun dan dikelompokkan berdasarkan garis keturunan. Cara mereka meletakkan peti mati pun unik yaitu diselipkan di antara celah-celah batu. Hanya jenazah yang sudah tumbuh gigi saja yang dimakamkan di Londa, sedangkan jenazah yang belum tumbuh gigi dimakamkan di dalam pohon atau digantung dengan tali di sisi tebing, hal ini karena mereka percaya adanya reingkarnasi.

Peti mati yang baru dimakamkan biasanya ditutup dengan kain putih atau dengan plastik putih transparan, saat kami berkunjung peti mati terbaru adalah jenazah yang meninggal tahun 2010. Pak Sampe sang pemandu kami mengingatkan agar kami tidak menyentuh peti mati atau memindahkan tulang dan tengkorak tanpa seizin adat. Jika hal ini terjadi maka perlu dilakukan upacara Rambu Solo.  Sama halnya mengganti peti yang sudah hancur dengan peti mati baru harus dilakukan upacara Rambu Solo. Dapat dipahami  mengapa tengkorak dan tulang-taulangnya dibiarkan tergeletak begitu saja. Sedangkan untuk sekedar mengambil foto diperbolehkan.
Pak Sampe menunjuk ke salah satu tempat di dasar goa, di sana terdapat 2 buah tengkorak lengkap dengan tulang-tulangnya. Ini seperti kisah Romeo dan Juliet, mereka mengakhiri hidupnya dengan cara menggantungkan diri di pohon. Hubungan percintaan mereka tidak disetujui keluarga dikarenakan mereka masih memiliki hubungan kerabat. Ironis memang, setelah meninggal justru jenazah mereka bisa dimakamkan berdampingan.

Lemo

Untuk mencapai Lemo jaraknya sekitar 12 km di selatan Rantepao, dapat ditemukan dengan mudah karena di pinggir jalan terpasang papan besar penunjuk arah. Pemakaman Lemo letaknya di atas bukit batu, di bawahnya terdapat petak-petak sawah hijau menggambarkan alam pedesaan yang masih asri. Untuk menuju ke bukit batu tersebut kita harus melewati pematang sawah. Lemo adalah kuburan batu tertua nomor dua di Tana Toraja, sedangkan kuburan batu tertua adalah Songgi Patolo. Lemo diperkirakan sudah ada sejak abad ke-16.

Dinamakan Lemo karena bukit batu tersebut bentuknya bulat menyerupai jeruk limau. Saya melihat Lemo sangat berbeda dengan kuburan batu lainnya. Jika di kuburan batu lainnya kita bisa melihat peti-peti mati digantung di tebing, maka di Lemo peti-peti mati tersebut dimasukkan ke dalam lubang batu dengan tangga atau ditarik dengan tali. Ukuran lubangnya pun cukup besar, sekitar 3 meter kali  5 meter. Untuk membuat lubang ini dibutuhkan biaya yang cukup besar, karena lubang tersebut dibuat dengan cara memahat bukit batu secara manual. Waktu yang dibutuhkan bisa mencapai 6 bulan atau bahkan 1 tahun.

Dalam satu lubang diisi oleh makam satu keluarga. Dari luar yang terlihat hanya pintu lubangnya saja yang ditutup dengan papan kayu. Terlihat sederetan patung kayu (Tau-Tau) diletakkan di beberapa lubang. Di bukit batu ini terdapat sekitar 75 lubang dan 40 buah Tau-Tau. Adanya Tau-Tau menunjukkan bahwa ini adalah pemakaman kaum bangsawan. Sebelum di makamkan di Lemo jenazah mereka pun melalui proses upacara Rambu Solo.

Meskipun untuk menuju Tana Toraja saya harus menempuh perjalanan jauh berjam-jam, tapi perjalanan ini sangat saya nikmati. Jika kita melakukan perjalanan siang hari kita bisa mampir ke objek wisata lain di kabupaten yang kita lewati. Apalagi ketika memasuki kabupaten  Enrekang, meskipun jalannya berliku-liku tapi pemandangan alamnya sangat indah. Ada Gunung Buttu Kabobong dan dikenal dengan nama Gunung Nona yang menurut saya sangat indah dan unik (Mulyati Asih)


Foto-Fotonya...

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!