hacker, rusia, bobol 160 juta kartu kredit, cyber crime

KBR68H - Kejaksaan Amerika Serikat (AS) mengungkap kasus peretasan (hacking) terbesar dalam sejarah kejahatan online di AS. Sebanyak 160 juta nomor kartu kredit dan debit telah diretas oleh empat warga Rusia dan seorang Ukraina dari 2005 hingga 2012.
 
Kelima hacker ini menargetkan perusahaan yang secara khusus melakukan transaksi keuangan. Para hacker mencuri data yang memungkinkan mereka untuk mereproduksi kartu palsu yang kemuadian dapat dijual atau digunakan untuk menarik uang dari mesin ATM di seluruh dunia.

Diantara 15 perusahaan yang diduga korban peretasan ini adalah 7-Eleven, JCPenney, JetBlue, dan Dow Jones. Mereka juga didakwa meretas ke server bursa saham NASDAQ sejak 2008 hingga 2010 dan memanipulasi data.

Akan tetapi, menurut pihak berwajib peretasan ini tidak sampai tahap platform perdagangan bursa saham dimana saham dibeli dan dijual.

Aparat penegak hukum menyebut kasus ini sebagai langkah yang signifikan dalam menunjukkan kemampuan mereka dalam ranah cybercrime.

"Jenis kejahatan mereka sudah melampaui batas awam," kata Paul Fishman, Jaksa AS saat mengumumkan dakwannya.

“Mereka yang memiliki keahlian dan kecenderungan untuk masuk ke jaringan komputer dan mengancam kesejahteraan ekonomi, privasi, dan keamanan nasional kita,” ujarnya.

Menurut  pihak berwenang, kerugian kasus ini telah mencapai $300 juta  pada perusahaan-perusahaan di AS di Eropa. Namun, angka itu belum termasuk kerugian yang dialami oleh korban pencurian identitas.

Cara kerja mereka adalah sesudah mengunduh nomor kartu dan data terkait, para konspirator tersebut menjual kembali data tersebut ke grosir pencurian data di seluruh dunia.

Smilianets mendapat imbalan biaya sekitar $ 10 untuk setiap nomor kartu kredit America, $ 50 untuk setiap nomor kartu kredit dan data Eropa dan $ 15 untuk setiap nomor kartu kredit Kanada dan data terkait.

Dua hacker, Rusia Vladimir Drinkman dan Dmitriy Smilianets, ditangkap oleh polisi Belanda atas permintaan AS, saat mereka sedang jalan-jalan di Belanda pada tahun 2012. Smilianets diekstradisi ke AS, sedangkan Drinkman berada dalam tahanan di Belanda karena tertunda sidang ekstradisi. Tiga hacker sisanya, Roman Kotov dan Alexandr Kalinin, yang dari Rusia dan dari  Ukraina Mikhail Rytikov,kini masih buron. (Yahoonews)

Editor: Doddy Rosadi

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!