komet, tabrakan bumi, ilmuwan afrika selatan

KBR68H, Washigton - Ilmuwan dari Afrika Selatan telah menemukan bukti pasti mengenai tabrakan komet dengan bumi yang pertama kali. Para akademisi Afrika Selatan mengatakan bukti yang mereka temukan mengisyaratkan komet itu menabrak Bumi sekitar 28 juta tahun lalu, di sebuah gurun di Mesir barat.

Pecahan-pecahan batu keramik hitam yang tertinggal di lokasi itu – yang disebut para ilmuwan itu sebagai pecahan komet – bisa mengungkap banyak rahasia alam semesta. Mereka menujukkan temuan tersebut di Universitas Witwatersrand di Johannesburg bulan ini.

Meteor dan asteroid sering bertabrakan dengan planet Bumi. Tetapi tabrakan dengan komet, menurut Profesor David Block dari Universitas Witwatersrand, unik dan mengesankan.

“Komet adalah gumpalan kotor yang mengandung tidak hanya batu, tetapi batu bercampur es. Intinya adalah atom-atom penopang kehidupan yang berisi karbon, oksigen, nitrogen, argon, neon, dan kripton  yang terdapat dalam semacam pabrik kimia kecil yang datang dari luar sistem tata surya …. Ini adalah kumpulan debu-debu kosmik yang sudah ada sebelum tata surya kita terbentuk. Jadi mereka mengandung banyak rahasia unik mengenai komposisi kimia awan-awan gas dan debu yang hancur lalu membentuk matahari dan planet-planet disekitarnya,”katanya.

Beberapa ilmuwan telah berteori bahwa dinosaurus punah akibat tabrakan dengan komet, tetapi belum ada buktinya.

Dokter Marco Andreoli mengatakan belum ada orang yang menyaksikan dan selamat dari tabrakan dengan komet karena peristiwa semacam itu akan memusnahkan segala bentuk kehidupan. Tetapi ia mengatakan bukti mengenai tabrakan komet itu nyata baginya.

Ilmuwan geologi Jan Kramers dari Universitas Johannesburg mengatakan komunitas ilmuwan terpecah mengenai kesimpulan timnya bahwa pecahan batu itu adalah sebuah komet. Tetapi ia sendiri cukup yakin.
 “…mungkin itu adalah komet. Mustahil itu bukan komet karena berasal dari kawasan paling luar di sistem tata surya, bergerak mengikuti gravitasi matahari dan menabrak Bumi,”ungkapnya.

Para periset itu berharap kajian lebih lanjut terhadap pecahan-pecahan komet itu akan membantu mereka memahami permulaan alam semesta kita. (VOA)

Editor: Doddy Rosadi


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!