KBR-Jakarta, Kapan terakhir kali Anda mengunjungi perpustakaan? Pertanyaan MC Selasa siang (2/9/2015) mendadak bikin peserta yang hadir di Ruang Cendrawasih JCC senyum tersipu, sebagian menggelengkan kepala. Sekitar seratusan pengunjung Indonesia International Book Fair (IIBF)  seperti ingin mengatakan bahwa mereka tak ingat kapan terakhir kali mengunjungi perpustakaan untuk meminjam dan membaca buku.

Banyak faktor mengapa kini orang enggan mengunjungi perpustakaan. Ada yang merasa tak punya kebutuhan meminjam buku hingga padatnya aktivitas sehingga tak punya waktu ke perpustakaan. Bukan cuma itu, lokasi perpustakaan yang tak mudah diakses dan tak memiliki koleksi beragam juga bikin orang tak tertarik untuk mengunjunginya.

UNESCO pernah melansir fakta mencengangkan soal minat baca masyarakat Indonesia yang hanya sebesar 0,01 presen. Ini berarti dari 10.000 orang hanya satu saja yang memiliki minat baca.

Minimnya minat baca dan terbatasnya akses terhadap buku berkualitas ini kemudian  mendorong PT Buqu Global meluncurkan layanan perpustakaan digital bernama BuquLib. BuquLib menawarkan layanan perpustakaan sekaligus menyediakan platform untuk membuat  perpustakaan digital. Masyarakat bisa bergabung langsung menjadi anggota perpustakaan  digital BuquLib atau membuat perpustakaan pribadi. Pengguna akan mendapatkan panduan  untuk membuat dan mengelola perpustakaan dengan cara mudah.

CEO BUQU Erlan Primansyah mengatakan layanan ini ingin mendekatkan buku ke masyakarat, tak sekadar membawa bacaan-bacaan berkualitas ke proses digital. Aplikasi yang bisa diunduh gratis di smartphone berbasis android ini diharapkan bisa mendorong minat baca seseorang. Tak hanya itu, hadirnya BuquLib diharapkan bisa membantu sekolah, universitas, komunitas, perusahaan dan keluarga memiliki perpustakaan digital tanpa harus membeli buku.

“Tidak diperlukan investasi saat perpustakaan digital dibangun atau dengan kata lain gratis. BuquLib yang akan menyediakan platform dan konten bukunya, selain buku berbayar yang dapat disewa saat ingin dibaca namun banyak juga konten gratis yang kami sediakan” jelas Erlan Primansyah dalam puluncuran BuquLib di ajang IIBF 2015, Selasa (2/9/2015).

Beragam judul buku pada BuquLib bisa disewa dengan tarif sebesar Rp 3.000 dan bisa dibaca selama satu minggu. Tarif tersebut berlaku untuk semua buku, termasuk buku-buku yang biasanya dibeli dengan harga mahal. Kata Erlan pihaknya telah merangkul ratusan penerbit nasional dan universitas untuk mengijinkan buku-buku mereka menjadi koleksi perpustakaan pribadi dari partner-partner BuquLib.

“Kami meracik teknologi modern sekaligus hemat. Ujung dari pendekatan kami adalah, kemudahan, harga yang terjangkau, kecepatan, koleksi yang lengkap dan beragam” jelasnya.

Perusahaan yang berdiri 16 Oktober 2013 yang berfokus pada penciptaan inovasi bagi industri penerbitan dan perbukuan itu kini tengah meracik teknologi untuk membuat daerah terpencil, terluar dan tertinggal untuk bisa memiliki perpustakaan digital.

“Teknologi ini, gampangnya kita sebut Digital Library Dispenser yang terkoneksi dengan satelit, sehingga untuk meng-update buku-buku digital dalam dispenser perpustakaan dilakukan sesuai kebutuhan saja (on-demand),” tambah Erlan.

Erlan menjanjikan desain unik pada fitur teknologi Buqu mampu menjawab tantangan dan situasi di negara  berkembang, yakni penggunaan file yang ringan dan tidak membutuhkan akses internet yang cepat, serta bersahabat dengan tipe gadget apapun.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!