Sarongge, hutan, Cianjur, Festival Sarongge

Dari camping ground Sarongge, Anda bisa berjalan masuk ke dalam hutan primer yang ada di sana, yang kaya akan vegetasi dan fauna. Sebaiknya Anda pergi dalam rombongan kecil dan ditemani oleh seorang pemandu interpretasi. Di rute ini Anda akan melewati zona inti di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Karena itu, ada larangan keras untuk memetik atau membawa tanaman atau hewan apa pun ke luar dari kawasan. Sampah? Jelas tidak boleh sekecil apa pun itu.

Di Festival Sarongge nanti, trek menelusuri hutan Sarongge ini tergantung pada cuaca saat itu serta pemandu dan peserta. Tidak semua rute bakal dilewati dan Anda pun bisa memilih trek panjang sampai ke air terjun Ciheulang atau cukup trek pendek saja. Uraian di bawah ini sebagai gambaran apa saja yang bisa Anda temui di dalam hutan Sarongge.

Sebelum masuk hutan, Anda akan berhenti di shelter Ki Leho, dinamai dari tanaman yang ada di situ yaitu Ki Leho canting (Saurauia vendula). Akar tanaman bisa dipakai sebagai obat typhus. Buahnya dimakan dan rasanya manis. Di pos ini akan ada briefing singkat soal apa itu HUtan Sarongge juga berdoa sebelum masuk hutan.

Dari shelter, lalu belok ke kiri, Anda akan menemukan salah satu jenis paku-pakuan langka di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Jenis paku itu adalah Paku Kebo (Angiopteris efecta) yang kini terancam punah. Bonggolnya banyak dicari orang untuk diekspor ke luar negeri, terutama Jepang. Paku Kebo banyak dipakai untuk bahan shampoo karena bisa menyuburkan rambut.

Ada juga paku-pakuan lain yaitu Paku Siur (Cyanthea latebrosa) yang bisa dikonsumsi langsung maupun dimasak. Yang paling diminati adalah bagian batang, untuk media anggrek. Paku Siur ini juga terancam punah sehingga penggunaan Paku Siur untuk media tanam anggrek sudah dilarang.

Kembali berjalan, Anda akan tiba di Pos Puspa, sebagai pemberhentian pertama. Pohon puspa (Schima walichii)adalah pohon asli TNGGP yang kokoh dan berumur 200 tahun. Tingginya mencapai 35 meter, perlu tiga orang dewasa bergandengan untuk melingkari batangnya). Puspa berbunga di bulan Januari-April dan harum bunganya sangat semerbak. Potensial diekstrak jadi parfum.

Dari situ, perjalanan lanjut ke Pasir Tengah. Di sini ada banyak cabang setapak yang bisa menyesatkan – jangan terpisah ya dari pemandu Anda. Jalan cabang ini sengaja dibuat warga setempat sebagai jalur menuju Alun-Alun Suryakencana, dekat puncak Gunung Gede. Jalan setapak ini juga bisa untuk berburu burung dan satwa lainnya, yang sebetulnya tidak boleh di zona inti TNGGP.

Di sini ada Paku sarang burung, habitat dari cacing sonari. Cacing ini hidup dalam akar Kadaka (Asplenidum nidus). Cacing ini dicari orang karena bisa dipakai untuk mengobati penyakit typhus, TBC dan lainnya.

Sedikit keluar dari jalan setapak, ada Anggrek bajing (Liparis palida) yang ukurannya kecil dan berwarna cokelat kekuningan. Ada 250-an jenis anggrek di TNGGP, tapi kini tersisa 102 jenis. Banyak di antara spesies ini yang sudah ditemukan lagi keberadaannya.

Jika beruntung, setelah pos ini maka Anda bisa merasakan musim gugur ala hutan tropis TNGGP. Di pos Ki Hujan (Engelhardia spicata), bunga yang berjatuhan tampak seperti musim gugur di negeri empat musim. Ki Hujan hanya berbunga sekali dalam waktu setahun yaitu di bulan Oktober. Pohon Ki Hujan juga jadi tempat burung bersarang dengan nyaman.

Di depan Ki Hujan ada jenis pandan pemanjat dengan daun yang sangat panjang. Jenis pandan itu disebut Pandan areuy (Freycinetia insignis). Akarnya sangat keras sehingga bisa dijadikan tali. Buahnya berbentuk seperti nangka, tapi tidak bisa dimakan.

Dari jalan setapak ada turunan, setelah melewati pohon rimba yang diminati sebagai tanaman hias, yaitu Ki Tembaga (Syzigium antisepticum). Batangnya berwarna kemerahan tembaga dan daunnya berwarna merah muda. Ki tembaga seringkali dijadikan tanaman ias sebagai bonsai. Karena sempat jadi buruan, Ki Tembaga di Hutan Sarongge tak lagi banyak.

Selah itu, belok kanan, menuju ke Pasir Tengah. Keluar dari jalan setapak, Anda akan disambut kebun sayur. Tapi sekarang area tersebut sudah ditanami oleh pohon rimba seperti Puspa, Rasamala, Manglid dan Suren oleh adopter pohon. Sebelum kembali ke camping ground, Anda bisa menanam pohon.

Seru kan! Ingat ya, jangan meninggalkan jejak sampah apa pun di sana. Cukup jejak kaki Anda saja sebagai bukti pengalaman baru Anda menelusuri hutan primer di dekat Jakarta!


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!