Foto: toogoodtogo.co.uk

Too Good To Go, Atasi Limbah Makanan


KBR, Jakarta- Apa yang terjadi pada sisa makanan di restoran, kafe, atau toko roti? Hampir selalu akan dibuang, bukan?

Berdasarkan data PBB, sekitar 30-40 persen dari makanan yang diproduksi di seluruh dunia tidak termakan karena hasil panen yang berlebih atau dibuang oleh toko-toko makanan dan konsumen sendiri. Namun di sisi lain, hampir 800 juta orang di seluruh dunia tidur dalam kondisi kelaparan setiap malamnya. Ini menjadi masalah yang serius sehingga para pemimpin dunia menargetkan pengurangan separuh sampah pangan dunia pada tahun 2030.

Merespon itu, Chris Wilson dan James Crummie berinisiatif membuat aplikasi “Too Good To Go”. Aplikasi ini memungkinkan restoran menjual limbah makanan mereka dengan harga diskon. Sementara konsumen cukup mengunduh aplikasi dan pesan makanan di restoran yang diinginkan. 

Cara unik untuk mengurangi limbah makanan ini rupanya disambut masyarakat eropa.  Wilson mengatakan sejak diluncurkan, “Too Good To Go" telah memiliki lebih dari 350.000 pengguna di seluruh Eropa.  Termasuk salah satunya, Shailene Woodley, Aktris Hollywood yang terkenal lewat film The Hunger Games.

Di Inggris aplikasi ini menawarkan berbagai restoran mulai dari roti 'high end' restoran Jepang dengan harga bervariasi mulai dari 2 pound atau setara 34 ribu rupiah. Aplikasi ini juga menjangkau Jerman, Swiss, Perancis, Norwegia dan Inggris. Aplikasi ini akan diluncurkan di Amerika Serikat sebelum akhir tahun 2016. 

Sejak diluncurkan di Denmark pada Oktober tahun 2015 lalu, "Too Good To Go" kini telah berhasil menyelamatkan lebih dari 100.000 makanan di Eropa selama 10 bulan terakhir.  Tercatat 1.167 makanan didonasikan karena harga yang dikenakan pun sangat murah.   (teenvogue, voa, toogoodtogo.co.uk)

Editor: Malika 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!