Facekini. Sumber: onlineshop

KBR, Jakarta- Burkini  masih jadi topik hangat di Perancis. Ini setelah beberapa wali kota di Prancis tetap memberlakukan pelarangan meskipun pengadilan sudah menetapkan putusannya Jumat lalu. Putusan Pengadilan Tertinggi Prancis menyatakan wali kota tidak punya hak melarang pemakaian burkini.  

Burkini jadi pro dan kontra  tak berkesudahan pasca gambar perempuan yang dipaksa aparat keamanan pantai di Perancis melepaskan burkini-nya menyebar di media sosial.

Burkini adalah bikini yang dirancang untuk menutupi bagian tubuh yang disebut sebagai aurat bagi muslim, namun juga cukup ringan untuk berenang. Sebelum isu burkini ini booming, ternyata di China sudah lebih dulu mulai dengan "facekini".

Facekini mirip dengan topeng maling berwarna hitam, menutupi seluruh kepala dan hanya memberi lubang untuk mata, lubang hidung, dan mulut. Bedanya, facekini dibuat ber-warna warni dan ditemui dengan mudah karena dikenakan hampir semua perempuan di pantai ketika musim panas seperti sekarang. 

Dilansir The New York Times, fenomena ini tertangkap pertama kali di Qingdao pada 2012. perempuan di China mengenakan facekini untuk melindungi kulit wajah dari terik matahari. Karena di beberapa negara di Asia, ada kekhawatiran pancaran sinar ultraviolet yang membuat kerutan kulit. Selain itu, kulit idaman bagi mereka adalah kulit yang pucat. Ini terbukti dengan tingginya permintaan untuk krim pemutih di Jepang, Korea Selatan, dan Thailand. 

Perempuan di China menggunakan facekini dengan baju renang yang melindungi torso dan lengan, sama seperti burkini.

Weibo melaporkan netizen China juga sempat memperbincangkan soal burkini, namun ini tidak menjadi masalah yang besar.

Salah satu blogger, Li Ahong berkomentar atas pelarangan penggunaan burkini. "Ini bukan langkah maju peradaban manusia, namun langkah mundur menuju kebiadaban atas campur tangan pada urusan pribadi orang. Jika seseorang diizinkan telanjang, makanya ia pun harusnya diizinkan untuk menutupi seluruh tubuhnya," tutup Li Ahong.

Editor: Malika 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!