Sebelum Burkini, Inilah Facekini

Pelarangan burkini langkah mundur peradaban manusia.

Selasa, 30 Agus 2016 11:17 WIB

Facekini. Sumber: onlineshop

KBR, Jakarta- Burkini  masih jadi topik hangat di Perancis. Ini setelah beberapa wali kota di Prancis tetap memberlakukan pelarangan meskipun pengadilan sudah menetapkan putusannya Jumat lalu. Putusan Pengadilan Tertinggi Prancis menyatakan wali kota tidak punya hak melarang pemakaian burkini.  

Burkini jadi pro dan kontra  tak berkesudahan pasca gambar perempuan yang dipaksa aparat keamanan pantai di Perancis melepaskan burkini-nya menyebar di media sosial.

Burkini adalah bikini yang dirancang untuk menutupi bagian tubuh yang disebut sebagai aurat bagi muslim, namun juga cukup ringan untuk berenang. Sebelum isu burkini ini booming, ternyata di China sudah lebih dulu mulai dengan "facekini".

Facekini mirip dengan topeng maling berwarna hitam, menutupi seluruh kepala dan hanya memberi lubang untuk mata, lubang hidung, dan mulut. Bedanya, facekini dibuat ber-warna warni dan ditemui dengan mudah karena dikenakan hampir semua perempuan di pantai ketika musim panas seperti sekarang. 

Dilansir The New York Times, fenomena ini tertangkap pertama kali di Qingdao pada 2012. perempuan di China mengenakan facekini untuk melindungi kulit wajah dari terik matahari. Karena di beberapa negara di Asia, ada kekhawatiran pancaran sinar ultraviolet yang membuat kerutan kulit. Selain itu, kulit idaman bagi mereka adalah kulit yang pucat. Ini terbukti dengan tingginya permintaan untuk krim pemutih di Jepang, Korea Selatan, dan Thailand. 

Perempuan di China menggunakan facekini dengan baju renang yang melindungi torso dan lengan, sama seperti burkini.

Weibo melaporkan netizen China juga sempat memperbincangkan soal burkini, namun ini tidak menjadi masalah yang besar.

Salah satu blogger, Li Ahong berkomentar atas pelarangan penggunaan burkini. "Ini bukan langkah maju peradaban manusia, namun langkah mundur menuju kebiadaban atas campur tangan pada urusan pribadi orang. Jika seseorang diizinkan telanjang, makanya ia pun harusnya diizinkan untuk menutupi seluruh tubuhnya," tutup Li Ahong.

Editor: Malika 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Permintaan PAN Mundur Dari Kabinet Bisa Jadi Masukan Presiden

  • Dua Eksekutor Penembak Gajah di Aceh Tengah Ditangkap
  • Diduga terkait Terorisme, Kuwait Usir Duta Besar Iran
  • Marcos Rojo Terancam Absen sampai 2018

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.