Presiden Joko Widodo dalam busana adat Batak (Foto: citraindonesia.com)

Presiden Joko Widodo dalam busana adat Batak (Foto: citraindonesia.com)

KBR, Jakarta - Karnaval Danau Toba yang digelar akhir pekan lalu masih menyisakan cerita. Gelaran yang merupakan bagian dari perayaan 71 tahun RI itu digelar di di Parapat (Simalungun) dan Balige (Toba Samosir). Acara dimeriahkan dengan karnaval budaya, parade perahu hias, pertunjukan konser musik, pesona tarian kontemporer, penampilan opera Batak, dan kuliner rakyat. 

Pegiat seni Olga Lydia yang ikut dalam kemeriahan pembukaan Karnaval Danau Toba. Ia laryt dalam kegembiran warga menyambut Presiden Joko Widodo yang hadir dengan pakaian adat Batak.

“Melihat wajah-wajah mereka begitu gembira, sebagai penonton mereka berdandan lengkap dengan ulos dan jas seperti akan berpesta... Itu pemandangan yang tidak bisa dilupakan,” cerita Olga.

Meski karnaval sudah berakhir, komentar di media sosial justru belum usai, utamanya soal gambar Presiden Joko Widodo yang memakai pakaian adat Batak. Misalnya, ada yang menyebut Jokowi terlihat seperti badut. Diantaranya ada di akun Facebook milik Nunik Wulandari II dan Andi Redani Putribangsa.

Cibiran itu bahkan berujung pada laporan ke polisi. Ketua Aliansi Masyarakat Luat Pahae (AMLP) Lamsiang Sitompul melaporkan Nunik Wulandari II dan Andi Redani Putribangsa. Mereka dianggap menghina harkat martabat dan harga diri, juga mempermalukan komunitas Suku Batak.

“Kita sebagai orang Batak kan merasa terhina akibat posting di Facebook itu. Seperti kata-kata Nunik itu, ‘orang tolol di pulau Samosir, jadi badut malah bangga’. Ini kan menghina Jokowi dan orang Batak secara umum. Itu kan jelas sekali Jokowi pakai pakaian adat Batak,” ujar Lamsiang.

Lamsiang melaporkan kedua orang tersebut ke Polda Sumut dengan dugaan penghinaan kepada Presiden Republik Indonesia (RI) dan Suku Batak. Laporan Lamsiang tercatat dalam laporan polisi pada 23 Agustus lalu. 

Pegiat budaya di kawasan Danau Toba, Rismon Sirait ikut berkomentar perihal topi Jokowi itu. Menurutnya topi yang dikenakan Jokowi itu hanya bentuknya saja yang kurang pas karena sudah mengalami modifikasi untuk alasan praktis. Topi atau Talitali dalam bahasa Batak, biasanya diberikan kepada orang yang dihormati. 

“Kalau yang dipakai Presiden itu Tumtuman. Kalau yang dipakai Pak Jokowi itu kan sudah ada modikasi karena dibuat dari peci. Itu sebabnya bentuknya saja yang kurang pas,” kata Rismon.

Menurut Rismon Sirait, harusnya yang perlu diperhatikan adalah tongkat yang diberikan kepada Presiden. Budaya Batak mengenal dua tongkat atau tungkot, balehat raja untuk Raja dan tungkot tunggal panaruan yang dipakai seorang datuk.

Simak KBR Trending di Buletin Sore, tiap Senin sampai Jumat pukul 16.00-16.30 WIB di radio-radio jaringan KBR. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!