Film Tiga Dara hasil restorasi ini akan tayang 11 Agustus 2016.

Film Tiga Dara hasil restorasi ini akan tayang 11 Agustus 2016.

Tanpa tujuan yang tertentu,

Bujang dara keluar pintu,

Dengan harapan jumpa satu,

Penawar asmara dirindu..

Dengan gaya seorang gentlemen,

Tampan nian bagai superman,

Hilir mudik tanpa tujuan,

Melagu sambil bersiulan..

Petikan lagu ‘Budjang Dara’ yang dinyanyikan Sam Saimun penyanyi yang tenar era 1950an tersebut adalah gambaran sekelebat bagaimana muda-mudi tahun 50an menghabiskan waktu senggangnya. 

Film ‘Tiga Dara’ (1956) adalah film musikal yang menggambarkan bagaimana muda mudi di era 1950an bersosialisasi, berpakaian juga berpacaran di sebuah negara yang baru saja merdeka dari penjajah. Ini menjadi film musikal pertama yang diproduksi Indonesia dan ditayangkan di bioskop. Sutradaranya adalah Usmar Ismail. 

Film bercerita tentang tiga saudara perempuan; Nunung (Chitra Dewi), Nana (Mieke Wijaya) dan Neni (Indriati Iskak). Cerita bergulir ketika Nunung berulang tahun ke-29 dan nenek mereka (Fifi Young) lantas merasa perlu untuk mencarikan jodoh untuk cucu tertuanya. Situasi ini lantas memicu konflik keluarga – Nunung keberatan dijodoh-jodohkan, sementara kakak-beradik lantas berselisih karena mencintai lelaki yang sama. 

Hasil restorasi 

Film ‘Tiga Dara’ ini bisa dinikmati di bioskop mulai 11 Agustus mendatang. Ini adalah film yang direstorasi di Laboratorium L’immagine Ritrovata di Bologna, Italia. Waktu pengerjaan film ini selama 17 bulan. Proses dimulai dengan restorasi film seluloid selama 8 bulan, dilanjutkan dengan restorasi secara digital di Indonesia selama 6 bulan. 

Ini menjadi hasil film restorasi dengan format 4K dengan resolusi tertinggi di Indonesia – sekaligus jadi yang pertama di Asia untuk dipertontonkan kepada publik. 

Inisiatif restorasi awalnya datang dari pemerintah Belanda melalu melalui EYE Museum di Amsterdam, pada tahun 2011. Lantaran krisis ekonomi Eropa, proses restorasi jadi terhenti hingga SA Films mengambil alih proses restorasi dari EYE Museum.

Sebelumnya, film lain karya Usmar Ismail, Lewat Djam Malam, juga direstorasi Laboratorium L’immagine Ritrovata di Bologna, Italia dengan bantuan National Museum of Singapore yang kemudian juga didukung oleh World Cinema Foundation, institusi film milik Martin Scorsese.

Soal perempuan, dulu dan sekarang

Film Tiga Dara adalah sebuah film tentang perempuan Indonesia. Menarik untuk melihat bagaimana konflik sosial era itu direkam dalam seluloid dan relevansinya dengan kondisi sosial saat ini.

Premis yang ditawarkan di film ‘Tiga Dara’ sepertinya masih relevan dengan kondisi sekarang – banyak anak muda yang diberondong dengan pertanyaan ‘kapan kawin’ oleh orangtua atau keluarga besar. Premis yang sama diambil oleh film ‘Kapan Kawin?’ (2015) yang diperankan oleh Dinda (Adinia Wirasti). Ada jarak 60 tahun antara film ‘Tiga Dara’ dan ‘Kapan Kawin?’ – Nunung dan Dinda berbagi kegalauan yang sama. 

Nunung digambarkan sebagai perempuan yang memilih berkebaya, ketimbang memakai gaun tanpa lengan. Ia juga lebih suka berlama-lama di dapur kectimbang berdendang dan menari di pesta. Ia mempertanyakan ‘keharusan sosial’ yang dipaksakan kepadanya untuk cepat kawin. 

Melagu sambil berdansa

Gambar hitam putih di film ‘Tiga Dara’ ini tidak mengurangi kenikmatan menonton film. Justru penonton merasa dekat karena persoalan yang dihadapi muda-mudi zaman dahulu tak beda dengan persoalan anak muda zaman sekarang. 

Ada Nana, adik Nunung, yang juga jadi tokoh film ini. Dia digambarkan sebagai perempuan muda yang modis, pandai bergaul, pergi ke pesta dan mengendarai skuter. Dari tokoh ini, penonton melihat bagaimana anak muda pada masa itu menghabiskan waktu senggang dengan lagu rancak Melayu dan goyang cha-cha. 

Sebagai film musikal, lagu dan tari adalah bagian penting dari film ini. Ismail Marzuki, Saiful Bahri, dan Oetjin Nurhasjim membuat komposisi musik dan lagu-lagu dalam ‘Tiga Dara’. Hanya Mieke Wijaya saja yang menyanyikan lagu di film ini, sementara untuk tokoh lainnya diisi oleh Sam Saimun, Elly Sri Kudus, Bing Slamet, Djuita, S. Effendy, dan Sitti Nurochma.

Tidak hanya sebagai latar, lagu dan komposisi musik juga ikut melengkapi bangunan cerita yang ditulis oleh Abdoel Moeis ini. Maka tidak heran, empat tahun setelah dirilis, ‘Tiga Dara’ berhasil meraih Piala Citra untuk kategori Tata Musik Terbaik pada gelaran Festival Film Indonesia.

‘Tiga Dara’ lebih dari cerita tentang kegalauan perempuan yang diminta segera kawin, film ini adalah rekaman tentang kita: Indonesia yang katanya murah senyum meski hidup tidak selalu seindah nyanyian dan seriang tarian. 

Selain warnanya yang hitam putih, menonton film ini seperti bukan menonton film diproduksi tahun 50an. Bahkan, warna hitam putih tidak jadi soal bahkan akan menggelitik syaraf estetika penonton yang gemar instagram atau VSCO. Musik, tarian dan humor dalam ‘Tiga Dara’ membuat penonton merasakan masa lalu dan sekarang ada berdampingan dalam ruang bernama bioskop.

Editor: Citra Dyah Prastuti

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!